Benarkah Kotoran Telinga Basah Berkaitan dengan Bau Badan? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Kotoran Telinga Basah
Ilustrasi Membersihkan Kotoran. (Foto: iStock)

BOGORTODAY.COM – Belakangan ini, media sosial ramai membahas dugaan bahwa kondisi kotoran telinga basah berkaitan dengan bau badan. Sekilas, hal ini terdengar seperti mitos yang tidak masuk akal. Namun, sejumlah penelitian ilmiah menunjukkan bahwa keduanya memang bisa memiliki hubungan biologis yang sama.

Kaitan tersebut tidak terjadi secara langsung, melainkan dipengaruhi oleh faktor genetik yang mengatur aktivitas kelenjar tertentu di tubuh manusia.

Peran Gen dalam Bau Badan dan Kotoran Telinga

Para peneliti menemukan bahwa hubungan antara kotoran telinga dan bau badan dipengaruhi oleh satu gen utama, yaitu ABCC11. Gen ini berperan dalam mengatur aktivitas kelenjar apokrin, yaitu kelenjar keringat yang berkontribusi terhadap aroma tubuh seseorang.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Human Cell (2024) menjelaskan bahwa variasi gen ini menentukan apakah seseorang memiliki kotoran telinga tipe basah atau kering. Individu dengan kotoran telinga basah umumnya memiliki aktivitas kelenjar apokrin yang lebih tinggi.

Kondisi ini menyebabkan produksi senyawa tertentu yang kemudian diurai oleh bakteri kulit hingga menghasilkan bau tubuh khas.

BACA JUGA :  Satu Rumah Ludes Terbakar di Ciampea, Tidak Ada Korban Jiwa

Proses Terbentuknya Bau Badan

Studi lain dalam Scientific Reports (2024) mengungkap bahwa kelenjar apokrin menghasilkan zat awal yang kemudian diubah oleh bakteri kulit menjadi senyawa berbau, salah satunya 3M3SH, yang dikenal sebagai komponen utama bau ketiak.

Penelitian sebelumnya juga mendukung temuan ini. Studi dalam jurnal BMC Genetics (2009) menemukan bahwa individu dengan kotoran telinga basah lebih sering memiliki kondisi bau badan yang lebih kuat, yang dikenal sebagai axillary osmidrosis.

Dalam penelitian tersebut, variasi gen ABCC11 tertentu (seperti tipe GG dan GA) dikaitkan dengan peningkatan aktivitas kelenjar apokrin. Sementara varian lainnya (AA), yang lebih umum pada pemilik kotoran telinga kering, cenderung menghasilkan aktivitas lebih rendah.

Tidak Hanya Faktor Genetik

Meski gen memiliki peran penting, para ahli menegaskan bahwa bau badan tidak hanya ditentukan oleh faktor keturunan. Ada banyak faktor lain yang ikut memengaruhi, seperti:

  • Kondisi bakteri di kulit
  • Tingkat kebersihan tubuh
  • Pola makan sehari-hari
  • Hormon
  • Jenis pakaian yang digunakan
  • Lingkungan tempat tinggal
BACA JUGA :  Hari Raya Waisak: Makna, Sejarah, dan Tradisi Umat Buddha

Artinya, seseorang dengan kotoran telinga basah belum tentu memiliki bau badan yang kuat, begitu juga sebaliknya.

Perbedaan pada Setiap Populasi

Menariknya, variasi gen ABCC11 juga berbeda pada tiap kelompok populasi. Studi menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat di beberapa negara Asia Timur, seperti Korea dan Jepang, memiliki varian gen yang berkaitan dengan kotoran telinga kering.

Hal ini juga berdampak pada rendahnya aktivitas kelenjar apokrin, sehingga kecenderungan bau badan pada kelompok tersebut relatif lebih kecil dibandingkan populasi lain.

Hubungan antara kotoran telinga basah dan bau badan ternyata bukan sekadar mitos, melainkan berkaitan dengan faktor genetik.

Namun, kondisi ini tetap dipengaruhi banyak faktor lain di luar gen, sehingga tidak bisa dijadikan patokan tunggal untuk menilai kebersihan atau kondisi tubuh seseorang.

Bagi Halaman

Editor : Gistin Illiyin

Sumber : CNNIndonesia

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================