
BOGORTODAY.COM – Hubungan yang selama ini terjalin harmonis antara Ukraina dan Israel kini menghadapi ujian serius.
Perselisihan muncul בעקבות dugaan masuknya gandum hasil jarahan dari wilayah Ukraina yang diduduki Rusia ke pelabuhan Israel, memicu reaksi keras dari Kyiv.
Awal polemik ini berangkat dari laporan jurnalis Kateryna Yaresko yang menyebut kapal kargo Rusia bernama Abinsk membawa puluhan ribu ton gandum dari wilayah Ukraina yang diduduki menuju pelabuhan Haifa. Meski belum ada konfirmasi resmi saat itu, laporan tersebut langsung menyita perhatian.
Situasi semakin memanas ketika Menteri Luar Negeri Ukraina, Andrii Sybiha, menyatakan adanya kapal lain dengan muatan serupa yang juga berlabuh di Israel. Ia mempertanyakan sikap otoritas Israel yang dinilai tidak merespons permintaan Ukraina untuk menindak pengiriman tersebut. Bahkan, duta besar Israel di Kyiv sempat dipanggil untuk dimintai penjelasan.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Saar, membantah tudingan tersebut dengan alasan kurangnya bukti konkret. Ia menegaskan bahwa tuduhan semacam itu seharusnya disertai langkah hukum resmi, bukan sekadar disampaikan melalui media sosial.
Pemerintah Ukraina kemudian membeberkan bahwa komunikasi diplomatik sebenarnya sudah dilakukan sejak Maret. Kyiv mengaku telah meminta bantuan hukum agar pengiriman gandum tersebut dihentikan.
Namun, kapal yang dimaksud tetap diperbolehkan membongkar muatan dan meninggalkan pelabuhan.
Presiden Volodymyr Zelenskyy turut angkat suara. Ia menegaskan bahwa perdagangan barang hasil jarahan merupakan pelanggaran hukum serius. Menurutnya, Rusia secara sistematis mengekspor gandum dari wilayah pendudukan, dan praktik tersebut tidak boleh dibiarkan.
Sebagai respons, Ukraina kini tengah menyiapkan paket sanksi yang menargetkan pihak-pihak yang terlibat dalam rantai distribusi gandum tersebut. Langkah ini juga dikoordinasikan dengan mitra di Eropa untuk memperluas dampaknya.
Meski demikian, dari sisi Israel, persoalan ini tidak sesederhana itu. Analis militer David Sharp menjelaskan bahwa pemerintah Israel membutuhkan bukti hukum yang kuat sebelum dapat membatalkan kontrak dagang.
Sistem hukum di negara tersebut melindungi aktivitas bisnis swasta, sehingga intervensi pemerintah tanpa dasar yang jelas bisa berujung gugatan hukum.
Tantangan utama bagi Ukraina adalah membuktikan asal-usul gandum tersebut. Praktik pencampuran gandum dari wilayah pendudukan dengan produk Rusia membuat identifikasi menjadi sulit.
Hal ini diakui oleh pakar kebijakan dari Kyiv, yang menyebut bahwa bagi pembeli, komoditas tersebut bisa tampak legal meski sebenarnya bermasalah.
Di tengah ketegangan ini, perkembangan terbaru menunjukkan adanya titik terang. Sebuah perusahaan Israel dilaporkan menolak menerima kiriman gandum yang diduga bermasalah. Kapal kargo terkait akhirnya meninggalkan pelabuhan tanpa membongkar muatan.
Bagi Ukraina, langkah ini dianggap sebagai kemenangan awal. Namun, pemerintah Kyiv menegaskan bahwa proses hukum dan upaya pemberian sanksi akan terus berlanjut hingga tuntas.
Kasus ini tidak hanya mencerminkan sengketa dagang, tetapi juga memperlihatkan kompleksitas konflik geopolitik yang melibatkan hukum internasional, perdagangan global, dan hubungan diplomatik antarnegara.
Bagi HalamanEditor : Gistin Illiyin
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















