BOGORTODAY.COM – Olahraga seperti gym, tenis, padel, hingga renang kini semakin diminati sebagai bagian dari gaya hidup sehat. Namun di balik manfaatnya bagi kebugaran tubuh, aktivitas fisik tersebut juga dapat meningkatkan risiko cedera, terutama pada area bahu yang bekerja aktif saat bergerak.
Sendi bahu dikenal sebagai salah satu bagian tubuh dengan tingkat fleksibilitas paling tinggi. Kemampuan bergeraknya yang luas membuat bahu sering digunakan dalam berbagai aktivitas olahraga, terutama gerakan mengangkat, memutar, atau mengayun lengan secara berulang. Jika dilakukan terus-menerus tanpa teknik yang tepat, kondisi ini bisa memicu cedera serius.
Salah satu masalah yang paling sering dialami atlet maupun pecinta olahraga adalah rotator cuff injury. Cedera ini terjadi pada jaringan otot dan tendon yang berfungsi menjaga kestabilan serta membantu pergerakan bahu.
Dokter spesialis ortopedi konsultan bahu dari Mayapada Hospital, dr. Sumpada Priambudi, menjelaskan bahwa cedera rotator cuff umumnya disebabkan penggunaan bahu berlebihan, trauma, atau proses penuaan jaringan.
Gejala yang sering muncul meliputi nyeri saat mengangkat tangan, kelemahan pada bahu, hingga kesulitan melakukan aktivitas di atas kepala. Bila tidak segera ditangani, kondisi ini dapat mengganggu aktivitas sehari-hari maupun performa olahraga.
Selain rotator cuff injury, frozen shoulder atau adhesive capsulitis juga menjadi gangguan bahu yang cukup sering ditemukan. Kondisi ini terjadi ketika kapsul pelindung sendi mengalami peradangan dan menebal, sehingga gerakan bahu menjadi semakin terbatas.
Penderita frozen shoulder biasanya merasakan nyeri yang makin terasa pada malam hari. Aktivitas sederhana seperti menyisir rambut, mengenakan pakaian, atau mengangkat tangan pun bisa menjadi sulit dilakukan.
Penanganan cedera bahu umumnya disesuaikan dengan tingkat keparahan yang dialami pasien. Pada tahap awal, dokter biasanya menyarankan terapi konservatif seperti fisioterapi, latihan mobilitas, serta pemberian obat antiinflamasi untuk membantu mengurangi nyeri dan memperbaiki fungsi sendi.
Jika kondisi tidak membaik, tindakan medis lanjutan dapat dipertimbangkan. Salah satunya adalah prosedur artroskopi minimal invasif yang dilakukan melalui sayatan kecil untuk memperbaiki jaringan bahu yang rusak. Metode ini dinilai mampu mempercepat proses pemulihan pasien dibanding operasi terbuka.
Menurut dr. Priambudi, mengenali gejala sejak dini menjadi langkah penting agar cedera tidak berkembang menjadi lebih parah. Penanganan yang cepat juga dapat membantu pasien kembali beraktivitas dengan optimal.
Untuk mendukung penanganan cedera olahraga, Mayapada Hospital menyediakan layanan Orthopedic Center dan Sports Injury Treatment & Performance Center (SITPEC). Fasilitas tersebut dirancang khusus untuk membantu diagnosis, terapi, hingga pemulihan performa bagi atlet maupun masyarakat aktif berolahraga.
Selain layanan medis, pemantauan kesehatan juga dapat dilakukan melalui aplikasi MyCare yang menyediakan fitur pemantauan aktivitas harian, detak jantung, kalori terbakar, hingga indeks massa tubuh secara praktis.
Bagi HalamanEditor : Gistin Illiyin
Sumber : CNNIndonesia
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================
















