Mengapa Tertawa Bisa Menular? Ini Penjelasan Ilmiah di Baliknya

Tertawa
Ilustrasi Tertawa. (Foto: iStock)

BOGORTODAY.COM – Pernahkah Anda ikut tertawa hanya karena melihat orang lain tertawa? Bahkan ketika belum mengetahui apa yang sebenarnya lucu, rasa ingin tertawa sering kali muncul begitu saja. Fenomena ini ternyata bukan sekadar kebiasaan sosial biasa, melainkan berkaitan erat dengan cara kerja otak manusia.

Tertawa merupakan respons alami tubuh yang melibatkan emosi, saraf, hingga interaksi sosial. Karena itulah, tawa sering muncul spontan dan sulit dikendalikan, terutama ketika berada di tengah banyak orang.

Tertawa Bukan Sekadar Ekspresi Bahagia

Banyak orang menganggap tertawa hanya terjadi saat seseorang merasa senang atau mendengar sesuatu yang lucu. Padahal, tawa juga bisa muncul ketika seseorang merasa gugup, cemas, atau berada dalam situasi yang terlalu tegang.

BACA JUGA :  Fenomena Alam dalam Al-Qur'an dan Keterkaitannya dengan Sains Modern

Hal tersebut terjadi karena otak berusaha melepaskan tekanan emosional yang dirasakan tubuh. Semakin seseorang mencoba menahan tawa dalam situasi serius, otak justru dapat merespons dengan meningkatkan dorongan untuk tertawa.

Secara ilmiah, tertawa dibagi menjadi dua jenis, yaitu tawa spontan dan tawa sosial. Tawa sosial biasanya dilakukan secara sadar untuk merespons lingkungan atau membangun hubungan dengan orang lain. Sementara itu, tawa spontan muncul secara otomatis tanpa direncanakan.

Mengapa Tawa Sulit Dihentikan?

Tawa spontan berasal dari bagian otak yang mengatur emosi, seperti amigdala. Bagian ini bekerja di luar kendali sadar manusia sehingga respons tertawa sering kali muncul tanpa bisa dicegah.

Ketika seseorang tertawa, otak juga melepaskan zat kimia alami seperti endorfin yang memberikan rasa nyaman dan rileks. Efek inilah yang membuat tertawa terasa menyenangkan sekaligus sulit dihentikan.

BACA JUGA :  Soal Penanganan Banjir Lintasan di Kota Bogor, Dedie Rachim: Ada Pembagian Kewenangan Pusat dan Provinsi

Selain membantu mengurangi stres, endorfin juga diketahui dapat menurunkan rasa sakit dan meningkatkan perasaan bahagia. Tidak heran jika setelah tertawa seseorang biasanya merasa lebih lega dan santai.

Kenapa Tertawa Bisa Menular?

Fenomena tertawa menular berkaitan erat dengan sifat manusia sebagai makhluk sosial. Otak manusia secara alami merespons ekspresi dan emosi orang lain, termasuk suara tawa.

Saat mendengar orang lain tertawa, otak menangkapnya sebagai sinyal sosial positif. Respons ini kemudian memicu bagian otak lain untuk ikut merasakan kegembiraan yang sama.

Editor : Gistin Illiyin

Sumber : Detik.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================