
Ia juga menyinggung filosofi “Padjajaran” sebagai gambaran kepemimpinan yang selaras dari tingkat atas hingga bawah.
Dalam pandangannya, struktur pemerintahan bukan sekadar rantai birokrasi administratif, melainkan satu kesatuan nilai yang harus saling menguatkan dalam melayani masyarakat.
Menurutnya, kekuasaan yang tidak dibangun dengan hikmat kebijaksanaan akan mudah kehilangan empati. Karena itu, setiap kebijakan publik harus lahir dari nurani, musyawarah, dan keberpihakan terhadap kepentingan bangsa.
“Hikmat kebijaksanaan itu artinya pemimpin tidak boleh hanya berpikir tentang kepentingan pribadi atau golongan. Politik harus punya rasa. Harus mampu mendengar keluhan rakyat kecil, petani, buruh, pedagang, dan seluruh masyarakat yang menggantungkan harapan kepada negara,” tegasnya.
Dalam momentum Hari Kebangkitan Nasional, Jaro Ade mengajak seluruh elemen bangsa untuk membangkitkan kembali kesadaran politik kebangsaan yang berakar pada nilai sosial, politik, ekonomi, dan budaya atau Sospolekbud.
Menurutnya, cita-cita kemerdekaan tidak akan pernah benar-benar hidup apabila Pancasila hanya menjadi simbol tanpa praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari.
“Bangsa ini akan kuat apabila pemimpinnya dekat dengan rakyat, kebijakannya berpihak kepada rakyat, dan politiknya dibangun dengan nilai kemanusiaan. Di situlah makna kebangkitan nasional yang sesungguhnya,” tandasnya.
Editor : Ilham Ariyansyah
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================














