BOGORTODAY.COM – Ibadah kurban merupakan salah satu bentuk pengabdian umat Islam kepada Allah SWT yang memiliki aturan serta tata cara khusus.
Pelaksanaannya tidak dapat dilakukan secara sembarangan karena terdapat ketentuan syariat yang harus dipenuhi agar ibadah tersebut sah dan sesuai ajaran Islam.
Perintah berkurban secara jelas tercantum dalam Al-Qur’an, tepatnya dalam Surah Al-Kautsar ayat 2:
“Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.”
Ayat tersebut menjadi landasan penting bagi umat Islam dalam menjalankan ibadah kurban sebagai bentuk ketaatan dan rasa syukur kepada Allah SWT.
Dalam praktik penyembelihan hewan kurban, terdapat sejumlah tata cara yang dianjurkan. Seorang penyembelih diwajibkan membaca basmalah sebelum memulai proses penyembelihan. Selain itu, hewan juga disunnahkan dihadapkan ke arah kiblat dan diposisikan dengan lambung kiri berada di bawah.
Meski sudah menjadi tradisi keagamaan yang dijalankan sejak lama, muncul pertanyaan yang sering mengundang rasa penasaran: apakah hewan kurban sebenarnya merasakan sakit ketika disembelih?
Pertanyaan ini tidak hanya menjadi pembahasan dari sisi agama, tetapi juga menarik perhatian dunia ilmiah. Berbagai penelitian dilakukan untuk mengetahui bagaimana respons tubuh hewan saat proses penyembelihan berlangsung.
Salah satu penelitian yang cukup dikenal dilakukan oleh Prof Wilhelm Schulze bersama timnya yang dipimpin Dr Hazim. Riset tersebut melibatkan sejumlah sapi dewasa untuk mengamati respons biologis hewan saat disembelih menggunakan metode berbeda.
Dalam penelitian itu, para ilmuwan memasang perangkat khusus pada tubuh sapi. Di bagian otak dipasang elektroda atau mikrochip Electro Encephalograph (EEG) untuk memantau aktivitas gelombang otak dan mendeteksi respons terhadap rasa sakit. Selain itu, dipasang pula alat Electro Cardiograph (ECG) yang berfungsi mengukur aktivitas jantung selama proses berlangsung.
Agar hasil penelitian lebih akurat, sapi-sapi tersebut terlebih dahulu melalui masa adaptasi selama beberapa minggu dengan alat yang telah terpasang. Langkah itu dilakukan agar hewan tidak mengalami stres akibat pemasangan perangkat penelitian.
Selanjutnya, sapi dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama disembelih mengikuti tata cara syariat Islam dengan menggunakan pisau yang tajam dan memotong saluran tertentu secara cepat. Sementara kelompok kedua menjalani metode penyembelihan lain yang dilakukan dengan cara pemukulan pada bagian kepala sebelum proses pemotongan.
Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan respons yang cukup menarik. Pada penyembelihan sesuai syariat Islam, aktivitas otak pada beberapa detik pertama menunjukkan kondisi yang relatif tenang.
Hewan tidak memperlihatkan indikasi rasa sakit berlebihan apabila proses dilakukan secara benar, cepat, dan menggunakan alat yang sangat tajam.
Sebaliknya, metode lain memperlihatkan respons stres yang lebih tinggi pada hewan. Hal ini menunjukkan bahwa teknik penyembelihan memiliki pengaruh besar terhadap tingkat ketidaknyamanan yang dirasakan hewan.
Meski demikian, para ahli menegaskan bahwa aspek kesejahteraan hewan tetap harus menjadi perhatian utama. Dalam Islam sendiri, Rasulullah SAW mengajarkan agar hewan diperlakukan dengan baik, tidak disiksa, serta proses penyembelihan dilakukan secara manusiawi.
Karena itu, selain menjadi ibadah, kurban juga mengajarkan nilai kasih sayang, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap makhluk hidup. Pelaksanaan yang sesuai syariat tidak hanya memenuhi ketentuan agama, tetapi juga memperhatikan aspek etika dan kesejahteraan hewan.
Bagi HalamanEditor : Gistin Illiyin
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================
















