Pancasila di Tengah Disrupsi Digital

Pancasila
Agus Jatmika (Pemerhati Komunikasi Sosial Budaya)

Oleh :  Agus Jatmika (Pemerhati Komunikasi Sosial Budaya)

SETIAP tanggal 1 Juni bangsa Indonesia kembali diingatkan pada momentum penting lahirnya Pancasila sebagai dasar negara sekaligus pandangan hidup bangsa. Momentum tersebut bukan sekedar agenda seremonial tahunan, tetapi ruang refleksi untuk melihat kembali sejauh mana nilai-nilai Pancasila masih hidup dalam praktik sosial masyarakat Indonesia hari ini.

Refleksi itu menjadi semakin penting ketika bangsa Indonesia sedang berada dalam pusaran perubahan besar akibat perkembangan teknologi informasi dan disrupsi digital.

Pancasila lahir melalui proses sejarah yang panjang dan penuh dinamika. Para pendiri bangsa merumuskannya bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan politik sesaat, tetapi sebagai pondasi bersama bagi masyarakat Indonesia yang majemuk.

Keberagaman suku, agama, budaya, bahasa, dan identitas sosial menjadi realitas yang sejak awal disadari membutuhkan perekat kebangsaan yang kuat. Dari situlah Pancasila hadir sebagai titik temu sekaligus orientasi moral bangsa Indonesia.

Sementara itu Pancasila tidak pernah berjalan tanpa ujian. Bangsa ini pernah menghadapi berbagai dinamika ideologi, konflik politik, hingga peristiwa sosial yang mengancam persatuan nasional.

BACA JUGA :  Ghana Taklukkan Panama, Persaingan Grup L Piala Dunia 2026 Kian Memanas

Sejarah tahun 1965 menjadi pengingat bahwa menjaga nilai kebangsaan membutuhkan kesadaran kolektif dan ketahanan sosial yang tidak sederhana. Tantangan terhadap Pancasila terus berubah mengikuti perkembangan zaman.

Jika dahulu ancaman terhadap nilai kebangsaan lebih tampak dalam bentuk konflik ideologi dan pertarungan politik secara terbuka, maka saat ini tantangannya hadir secara lebih halus namun jauh lebih kompleks.

Revolusi teknologi informasi telah mengubah cara manusia berpikir, berinteraksi, dan membangun kehidupan sosial. Dunia digital tidak lagi sekedar alat bantu komunikasi, tetapi telah menjadi ruang hidup baru yang memengaruhi hampir seluruh aktivitas manusia.

Saat ini generasi muda, khususnya Generasi Z, merupakan kelompok yang paling dekat dengan perubahan tersebut. Mereka tumbuh dalam lingkungan yang serba cepat, instan, dan terkoneksi tanpa batas. Informasi hadir hanya dalam hitungan detik. Media sosial menjadi ruang interaksi utama. Identitas sosial bahkan sering kali dibentuk melalui dunia virtual.

BACA JUGA :  Dorong UMKM Naik Kelas, Pemkab Bogor Gelar Gebyar Siliwangi

Kondisi ini tentu menghadirkan banyak peluang positif. Teknologi membuka akses pendidikan yang lebih luas, mempercepat penyebaran pengetahuan, dan melahirkan kreativitas baru dalam berbagai bidang kehidupan. Di sisi lain disrupsi digital juga membawa tantangan sosial yang tidak ringan.

Masyarakat hari ini hidup dalam banjir informasi yang tidak semuanya dapat dipertanggungjawabkan. Hoaks menyebar dengan cepat, polarisasi sosial semakin mudah terjadi.

Ruang digital sering kali dipenuhi ujaran kebencian, perundungan, dan konflik identitas. Budaya instan perlahan membentuk generasi yang terbiasa pada kecepatan, tetapi terkadang lemah dalam kedalaman berpikir dan kepekaan sosial.

Dalam perspektif sosiologi, kondisi tersebut menunjukkan adanya ketidakseimbangan antara perkembangan teknologi dengan kesiapan budaya masyarakat.

Perubahan teknologi bergerak sangat cepat, sementara kemampuan sosial dalam menyerap nilai dan etika sering kali tertinggal. Akibatnya, modernisasi tidak selalu berjalan seiring dengan kematangan karakter sosial.

Editor : Gistin Illiyin

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================