BOGORTODAY.COM – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadikan telur sebagai salah satu menu andalan untuk memenuhi kebutuhan protein anak-anak Indonesia. Selain mudah diperoleh, telur juga dikenal sebagai sumber protein hewani yang berkualitas dengan harga yang relatif terjangkau.
Namun, dalam sebuah kesempatan, Presiden Prabowo Subianto menyoroti cara penyajian telur dalam program tersebut. Ia mengingatkan agar telur tidak diolah menjadi telur dadar yang dicampur terlalu banyak bahan tambahan, terutama tepung, karena dikhawatirkan dapat mengurangi manfaat gizi yang diterima anak-anak.
Pernyataan tersebut memunculkan diskusi di masyarakat mengenai perbedaan kandungan gizi antara telur ceplok dan telur dadar. Apakah benar telur ceplok lebih baik dari sisi nutrisi?
Telur Tetap Menjadi Sumber Protein Berkualitas
Telur merupakan salah satu bahan pangan dengan kandungan gizi yang sangat lengkap. Dalam satu butir telur ayam terkandung protein berkualitas tinggi yang penting untuk pertumbuhan, pembentukan jaringan tubuh, serta perkembangan otak anak.
Selain protein, telur juga mengandung berbagai vitamin dan mineral seperti vitamin A, vitamin D, vitamin B12, zat besi, dan kolin yang berperan penting dalam menjaga kesehatan tubuh.
Pada dasarnya, proses memasak telur menjadi telur ceplok maupun telur dadar tidak menghilangkan kandungan protein utamanya. Selama jumlah telur yang digunakan sama, nilai protein yang diperoleh juga tidak jauh berbeda.
Peran Tepung dalam Telur Dadar
Perbedaan mulai terlihat ketika telur dadar dicampur dengan bahan tambahan dalam jumlah besar, terutama tepung. Penambahan tepung memang dapat membuat ukuran makanan menjadi lebih besar dan terasa lebih mengenyangkan.
Namun, tepung sebagian besar menyumbang karbohidrat, bukan protein hewani. Akibatnya, jika jumlah telur yang digunakan sedikit lalu dicampur banyak tepung dan dibagi ke lebih banyak porsi, kandungan protein yang diterima setiap anak menjadi lebih rendah.
Sebagai contoh, beberapa butir telur yang dicampur tepung dapat menghasilkan satu loyang telur dadar berukuran besar. Ketika makanan tersebut dibagi kepada banyak penerima, jumlah protein yang diperoleh setiap anak tentu lebih sedikit dibandingkan jika mereka menerima telur utuh atau porsi telur yang lebih besar.
Inilah yang menjadi perhatian utama dalam pemenuhan kebutuhan gizi anak melalui program MBG.
Kalori dan Lemak Juga Berpengaruh
Selain soal protein, metode pengolahan juga memengaruhi jumlah kalori dan lemak dalam makanan. Telur ceplok yang digoreng menggunakan minyak akan mengalami penambahan kalori dan kandungan lemak dari minyak yang terserap selama proses memasak.
Hal yang sama juga terjadi pada telur dadar. Bahkan, jika telur dadar dibuat dengan tambahan tepung dan digoreng dalam minyak cukup banyak, total kalori makanan bisa menjadi lebih tinggi.
Meski demikian, peningkatan kalori bukanlah masalah utama. Fokus utama program gizi adalah memastikan anak-anak mendapatkan asupan protein hewani yang cukup untuk mendukung tumbuh kembang mereka.
Mana yang Lebih Baik untuk Program MBG?
Dari sisi kandungan protein, telur ceplok dan telur dadar sebenarnya tidak memiliki perbedaan yang signifikan apabila dibuat dari jumlah telur yang sama. Namun, ketika telur dadar dicampur banyak tepung dan porsinya diperbanyak, kandungan protein per sajian akan berkurang.
Karena itu, penggunaan telur utuh atau olahan yang tetap mempertahankan proporsi telur yang memadai dianggap lebih efektif untuk memenuhi tujuan Program Makan Bergizi Gratis.
Dengan menjaga kualitas dan jumlah protein dalam setiap porsi makanan, program MBG diharapkan dapat memberikan manfaat optimal bagi pertumbuhan anak-anak Indonesia. Pada akhirnya, yang terpenting bukan hanya bentuk olahan telurnya, melainkan memastikan setiap anak memperoleh asupan protein yang cukup sesuai kebutuhan gizinya.
Bagi HalamanEditor : Gistin Illiyin
Sumber : CNNIndonesia
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















