Bolehkah Donor Darah Saat Haid? Ini Penjelasan dan Syarat yang Perlu Diketahui

BOGORTODAY.COM Donor darah merupakan salah satu bentuk aksi kemanusiaan yang memiliki manfaat besar bagi banyak orang. Darah yang disumbangkan dapat membantu pasien yang membutuhkan transfusi akibat kecelakaan, operasi, penyakit tertentu, hingga kondisi darurat lainnya.

Meski demikian, masih banyak perempuan yang ragu untuk mendonorkan darah saat sedang menstruasi. Kekhawatiran paling umum adalah tubuh akan kehilangan terlalu banyak darah sehingga menyebabkan lemas atau berdampak pada kesehatan.

Lalu, apakah perempuan yang sedang haid tetap diperbolehkan menjadi pendonor darah?

Menstruasi Bukan Larangan untuk Donor Darah

Pada dasarnya, perempuan yang sedang mengalami menstruasi tetap dapat mendonorkan darah selama kondisi kesehatannya baik dan memenuhi seluruh persyaratan donor yang berlaku.

Menstruasi memang menyebabkan tubuh kehilangan sejumlah darah setiap bulan. Bersamaan dengan itu, tubuh juga kehilangan zat besi yang berperan penting dalam pembentukan hemoglobin, yaitu protein pada sel darah merah yang bertugas mengangkut oksigen ke seluruh tubuh.

Namun, bagi perempuan yang memiliki siklus menstruasi normal dengan volume perdarahan ringan hingga sedang, kehilangan zat besi tersebut umumnya dapat digantikan kembali melalui asupan makanan sehari-hari. Karena itu, menstruasi tidak otomatis membuat seseorang tidak layak menjadi pendonor.

Perhatikan Kadar Hemoglobin

Salah satu faktor terpenting yang menentukan apakah seseorang dapat mendonorkan darah adalah kadar hemoglobin dalam tubuh.

Sebelum proses donor dilakukan, petugas akan melakukan pemeriksaan sederhana untuk mengetahui kadar hemoglobin calon pendonor. Pemeriksaan ini biasanya dilakukan melalui sampel darah yang diambil dari ujung jari.

BACA JUGA :  Minum Kopi Sehat: Hindari 3 Kesalahan Ini Agar Manfaatnya Maksimal

Bagi perempuan, kadar hemoglobin minimal yang umumnya dipersyaratkan adalah 12,5 gram per desiliter. Jika hasil pemeriksaan menunjukkan angka di bawah batas tersebut, proses donor akan ditunda hingga kondisi tubuh kembali normal.

Karena itu, perempuan yang sedang menstruasi tetap dapat mendonor darah selama hasil pemeriksaan hemoglobinnya memenuhi standar yang ditentukan.

Menstruasi Berat Sebaiknya Menjadi Pertimbangan

Meski haid bukan penghalang untuk donor darah, kondisi menstruasi yang terlalu banyak atau berlangsung lebih lama dari biasanya perlu menjadi perhatian.

Perdarahan yang berlebihan dapat menyebabkan cadangan zat besi menurun dan meningkatkan risiko anemia. Dalam kondisi seperti ini, tubuh membutuhkan waktu untuk memulihkan keseimbangan darah sebelum melakukan donor.

Selain itu, perempuan yang sedang mengalami gejala seperti pusing, tubuh terasa lemah, mudah lelah, atau tidak fit selama menstruasi disarankan menunda donor hingga kondisi kesehatannya membaik.

Cara Menjaga Tubuh Tetap Siap untuk Donor

Agar kadar hemoglobin tetap optimal, calon pendonor dianjurkan mengonsumsi makanan yang kaya zat besi. Nutrisi tersebut dapat diperoleh dari berbagai sumber makanan seperti daging merah, hati, ikan, sayuran hijau, kacang-kacangan, tahu, serta biji-bijian yang diperkaya zat besi.

Selain itu, vitamin C juga berperan penting dalam membantu penyerapan zat besi oleh tubuh. Karena itu, mengonsumsi buah-buahan seperti jeruk, stroberi, jambu biji, atau kiwi dapat menjadi pilihan yang baik sebelum donor darah.

Istirahat yang cukup dan menjaga hidrasi tubuh juga penting untuk memastikan kondisi fisik tetap prima saat mendonorkan darah.

BACA JUGA :  Jaro Ade Tegaskan Pemkab Bogor Dukung Pengendalian Alih Fungsi Lahan

Persyaratan Umum Menjadi Pendonor

Menurut ketentuan kesehatan internasional, seseorang umumnya dapat mendonorkan darah apabila memenuhi sejumlah syarat dasar.

Calon pendonor harus berada dalam kondisi sehat, berusia antara 18 hingga 65 tahun, serta memiliki berat badan minimal 50 kilogram. Selain itu, pendonor tidak boleh sedang mengalami infeksi, demam, flu, atau gangguan kesehatan lainnya saat proses donor berlangsung.

Bagi perempuan, kondisi kehamilan dan masa menyusui juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan karena dapat memengaruhi kelayakan untuk mendonorkan darah.

Pentingnya Pemeriksaan Sebelum Donor

Setiap proses donor darah selalu diawali dengan pemeriksaan kesehatan untuk memastikan keamanan baik bagi pendonor maupun penerima darah.

Pemeriksaan tersebut meliputi pengecekan tekanan darah, kadar hemoglobin, riwayat kesehatan, serta kondisi fisik secara umum. Dengan prosedur ini, petugas dapat menentukan apakah seseorang aman untuk mendonorkan darah pada saat itu.

Perempuan yang sedang haid tetap diperbolehkan mendonorkan darah selama kondisi tubuh sehat dan kadar hemoglobinnya memenuhi persyaratan yang ditetapkan. Menstruasi bukanlah alasan otomatis untuk menolak donor darah.

Namun, apabila mengalami menstruasi yang sangat banyak, merasa lemas, pusing, atau hasil pemeriksaan hemoglobin berada di bawah batas normal, sebaiknya donor ditunda hingga kondisi tubuh pulih sepenuhnya.

Dengan menjaga asupan nutrisi, istirahat yang cukup, dan rutin memeriksa kesehatan, perempuan tetap dapat berpartisipasi dalam kegiatan donor darah sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama tanpa perlu khawatir selama memenuhi syarat medis yang berlaku.

Bagi Halaman

Editor : Gistin Illiyin

Sumber : CNNIndonesia

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================