
Namun optimisme tersebut tidak bertahan lama. Situasi kembali berubah setelah ketegangan di Timur Tengah meningkat akibat serangan militer yang dilakukan Israel ke Lebanon. Kondisi ini memicu kekhawatiran baru mengenai stabilitas kawasan yang selama ini menjadi pusat produksi energi dunia.
Ketidakpastian semakin bertambah setelah agenda pertemuan lanjutan antara pejabat Amerika Serikat dan negosiator Iran dilaporkan batal dilaksanakan. Pembatalan perjalanan Wakil Presiden AS JD Vance menjadi sinyal bahwa proses diplomasi belum berjalan sesuai harapan.
Sejumlah analis menilai pasar kini berada dalam fase yang sangat sensitif terhadap perkembangan politik dan keamanan kawasan. Investor masih menunggu kepastian apakah jalur distribusi minyak melalui Selat Hormuz benar-benar kembali normal serta apakah kesepakatan damai dapat diwujudkan dalam waktu dekat.
Pengamat pasar energi memperkirakan harga minyak masih akan bergerak fluktuatif dalam beberapa waktu ke depan. Setiap perkembangan terkait konflik maupun negosiasi diplomatik berpotensi memicu perubahan harga yang cukup tajam.
Dengan kondisi geopolitik yang belum sepenuhnya stabil, pasar minyak global diperkirakan akan tetap dibayangi ketidakpastian. Para pelaku industri dan investor kini terus mencermati perkembangan di Timur Tengah yang dinilai menjadi faktor utama penentu arah harga energi dunia dalam jangka pendek.
Editor : Gistin Illiyin
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================














