Mitos dan Fakta Seputar Penyakit Liver, Benarkah Penderita Harus Banyak Minum yang Manis?

BOGORTODAY.COM Penyakit liver atau gangguan hati menjadi salah satu masalah kesehatan yang cukup sering ditemukan di masyarakat. Kondisi ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari infeksi virus hepatitis, perlemakan hati, sirosis, hingga kanker hati.

Di tengah masyarakat, masih beredar sejumlah anggapan terkait pola makan bagi penderita penyakit liver. Salah satu yang paling populer adalah keyakinan bahwa penderita sakit kuning atau gangguan hati harus banyak mengonsumsi minuman manis seperti sirup.

Selain itu, ada pula pandangan bahwa semua makanan berlemak wajib dihindari. Namun, apakah anggapan tersebut benar secara medis?

Dokter spesialis penyakit dalam konsultan gastroenterologi dan hepatologi dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), dr. Rino Alvani Gani, memberikan penjelasan mengenai berbagai mitos yang berkembang terkait penyakit liver.

Benarkah Penderita Liver Harus Minum Sirup atau Makanan Manis?

Menurut dr. Rino, anggapan tersebut muncul karena hati berperan sebagai tempat penyimpanan cadangan gula dalam bentuk glikogen. Ketika tubuh memiliki kelebihan gula yang tidak digunakan sebagai sumber energi, zat tersebut akan disimpan di hati untuk digunakan saat diperlukan.

Banyak orang berasumsi bahwa ketika fungsi hati terganggu, cadangan glikogen juga berkurang sehingga penderita rentan mengalami gula darah rendah. Dari sinilah muncul saran agar pasien liver lebih banyak mengonsumsi makanan atau minuman manis.

Namun, perkembangan ilmu kedokteran menunjukkan bahwa tubuh memiliki mekanisme yang jauh lebih kompleks. Selain memanfaatkan cadangan gula di hati, tubuh juga mampu menghasilkan energi dari cadangan lemak maupun protein ketika diperlukan.

BACA JUGA :  Luxeed RX Tuai Sorotan, Desain SUV Listrik Huawei-Chery Disebut Mirip Ferrari Purosangue

Karena itu, konsumsi gula berlebihan bukanlah solusi yang dianjurkan bagi penderita penyakit hati. Justru, asupan manis yang terlalu banyak berpotensi memperburuk kondisi kesehatan dengan meningkatkan risiko perlemakan hati, obesitas, hingga gangguan metabolisme lainnya.

Apakah Makanan Berlemak Harus Dihindari?

Pertanyaan lain yang sering muncul adalah mengenai konsumsi lemak saat seseorang mengalami gangguan liver.

Hati memiliki fungsi penting dalam menghasilkan cairan empedu yang membantu proses pencernaan dan penyerapan lemak. Ketika fungsi hati menurun, produksi empedu juga dapat berkurang sehingga kemampuan tubuh mencerna lemak menjadi tidak seoptimal biasanya.

Karena alasan tersebut, pembatasan lemak tertentu memang dapat membantu meringankan kerja hati. Namun bukan berarti semua jenis lemak harus dihindari.

Lemak jenuh yang banyak ditemukan pada produk hewani seperti daging berlemak, kulit ayam, atau makanan olahan sebaiknya dibatasi. Sebaliknya, lemak nabati yang berasal dari tumbuhan umumnya lebih mudah diproses oleh tubuh dan relatif lebih aman dikonsumsi dalam jumlah yang wajar.

Para ahli menekankan bahwa yang paling penting adalah menjaga pola makan seimbang dengan asupan kalori, protein, karbohidrat, dan lemak yang cukup sesuai kebutuhan tubuh.

Bagaimana dengan Konsumsi Herbal?

Banyak penderita penyakit liver juga mencari alternatif pengobatan melalui produk herbal. Meski sejumlah herbal dipercaya memiliki manfaat tertentu, penggunaannya tetap perlu dilakukan dengan hati-hati.

BACA JUGA :  AS-Iran Capai Kesepakatan Baru, Gencatan Senjata Diperpanjang dan Selat Hormuz Segera Dibuka

Menurut dr. Rino, setiap zat yang masuk ke dalam tubuh memiliki potensi memberikan manfaat maupun efek samping. Sebuah produk dapat dikatakan aman apabila manfaat terapinya lebih besar dibandingkan risiko yang ditimbulkan.

Masalahnya, tidak semua produk herbal memiliki bukti ilmiah yang kuat. Sebagian masih berdasarkan pengalaman atau testimoni pengguna tanpa didukung penelitian klinis yang memadai.

Oleh karena itu, masyarakat dianjurkan untuk lebih kritis sebelum mengonsumsi suplemen atau ramuan herbal. Pastikan produk tersebut telah memiliki izin edar resmi dan didukung penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan.

Pentingnya Konsultasi dengan Dokter

Dalam menangani penyakit liver, langkah terbaik tetap berkonsultasi dengan dokter yang kompeten. Pemeriksaan medis dapat membantu menentukan penyebab gangguan hati serta memberikan rekomendasi terapi yang sesuai dengan kondisi masing-masing pasien.

Jika ingin mencari informasi tambahan, masyarakat juga disarankan mengakses sumber terpercaya, seperti lembaga kesehatan resmi atau informasi yang telah diverifikasi oleh instansi berwenang.

Pada akhirnya, menjaga kesehatan hati tidak cukup hanya dengan mengikuti mitos yang beredar. Pola makan seimbang, pemeriksaan rutin, serta penanganan medis yang tepat menjadi kunci utama untuk menjaga fungsi liver tetap optimal dan mencegah komplikasi yang lebih serius.

Bagi Halaman

Editor : Gistin Illiyin

Sumber : CNNIndonesia

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================