
BOGORTODAY.COM – Dalam ajaran Islam, neraka merupakan tempat pembalasan bagi mereka yang mengingkari perintah Allah SWT dan melakukan berbagai kemaksiatan tanpa bertaubat. Di antara sekian banyak penyebab seseorang terjerumus ke dalam neraka, Rasulullah SAW mengingatkan dua hal yang sering dianggap sepele, tetapi memiliki dampak yang sangat besar, yakni lisan dan kemaluan.
Peringatan tersebut termuat dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah RA. Rasulullah SAW bersabda bahwa dua anggota tubuh itulah yang paling banyak menjadi penyebab manusia masuk ke dalam neraka.
Hadis tersebut mengajarkan bahwa setiap ucapan maupun perbuatan harus dijaga dengan baik karena keduanya dapat menjadi sumber pahala sekaligus dosa.
Bahaya Lisan yang Sering Diremehkan
Dalam Islam, lisan bukan hanya alat untuk berbicara, tetapi juga cerminan hati seseorang. Melalui lisan, seseorang dapat menyebarkan kebaikan, tetapi juga bisa melukai, memfitnah, menggunjing, berdusta, hingga mengadu domba.
Rasulullah SAW pernah menjelaskan bahwa seluruh anggota tubuh seakan bergantung kepada lisan. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Abu Sa’id Al-Khudri RA, disebutkan bahwa setiap pagi seluruh anggota badan mengingatkan lisan agar bertakwa kepada Allah SWT. Jika lisan dijaga dengan baik, seluruh anggota tubuh akan ikut berada di jalan yang benar. Sebaliknya, apabila lisan menyimpang, anggota tubuh lainnya pun dapat ikut terjerumus dalam keburukan.
Kesadaran akan pentingnya menjaga lisan juga ditunjukkan oleh para sahabat Nabi. Diriwayatkan bahwa Abu Bakar Ash-Shiddiq RA pernah memegang lidahnya sendiri seraya mengatakan bahwa anggota tubuh itulah yang paling dikhawatirkannya menjadi penyebab kebinasaan.
Sementara Umar bin Khattab RA juga pernah menyaksikan peristiwa tersebut dan mendengar pengakuan Abu Bakar mengenai besarnya bahaya lisan apabila tidak dikendalikan.
Berkata Baik atau Memilih Diam
Para ulama salaf memberikan perhatian besar terhadap adab berbicara. Ibnu Abbas RA, misalnya, pernah menasihati agar seseorang hanya mengucapkan perkataan yang baik. Menurutnya, berbicara baik akan membawa keselamatan, sedangkan perkataan buruk hanya akan mendatangkan penyesalan.
Ia juga mengingatkan bahwa pada Hari Kiamat nanti tidak ada anggota tubuh yang lebih berat pertanggungjawabannya selain lisan, kecuali bagi orang-orang yang menggunakannya untuk menyampaikan kebaikan.
Nasihat serupa disampaikan oleh Hasan Al-Bashri. Menurutnya, lisan merupakan pusat kendali manusia. Apabila lisan mampu dijaga, perilaku seseorang juga akan lebih mudah dikendalikan. Sebaliknya, jika lisan dibiarkan bebas tanpa kontrol, berbagai perbuatan buruk akan lebih mudah terjadi.
Menjaga Kemaluan dari Perbuatan Haram
Selain lisan, Rasulullah SAW juga mengingatkan pentingnya menjaga kemaluan dari segala perbuatan yang diharamkan Allah SWT.
Dalam Islam, menjaga kehormatan diri merupakan bagian dari ketakwaan. Salah satu dosa besar yang berkaitan dengan kemaluan adalah zina, yaitu hubungan seksual di luar pernikahan yang sah.
Allah SWT memberikan larangan tegas terhadap perbuatan tersebut dalam Al-Qur’an. Dalam Surah Al-Isra ayat 32, Allah berfirman:
“Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan keji dan merupakan jalan yang buruk.”
Ayat tersebut menunjukkan bahwa Islam bukan hanya melarang perbuatan zina, tetapi juga segala hal yang dapat mengantarkan seseorang kepada perbuatan tersebut.
Selain itu, dalam Surah Al-Furqan ayat 68, Allah SWT juga menyebut zina sebagai salah satu dosa besar bersama syirik dan pembunuhan tanpa alasan yang dibenarkan.
Para ulama menjelaskan bahwa menjaga pandangan, pergaulan, serta menjauhi segala bentuk godaan yang mengarah kepada maksiat merupakan bagian penting dalam menjaga kehormatan diri.
Memohon Perlindungan kepada Allah SWT
Selain berusaha menjaga lisan dan kemaluan, umat Islam juga dianjurkan memperbanyak doa agar diberikan perlindungan dari keburukan anggota tubuh yang dapat menjerumuskan ke dalam dosa.
Rasulullah SAW mengajarkan doa berikut:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ سَمْعِي وَمِنْ شَرِّ بَصَرِي وَمِنْ شَرِّ لِسَانِي وَمِنْ شَرِّ قَلْبِي وَمِنْ شَرِّ مَنِيِّي
Allahumma inni a’udzu bika min syarri sam’i, wa min syarri bashari, wa min syarri lisani, wa min syarri qalbi, wa min syarri maniyyi.
Artinya:
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari keburukan pendengaranku, keburukan penglihatanku, keburukan lisanku, keburukan hatiku, dan keburukan kemaluanku.”
Doa yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan At-Tirmidzi tersebut menjadi pengingat bahwa setiap Muslim hendaknya senantiasa memohon pertolongan Allah SWT agar mampu menjaga diri dari berbagai godaan yang dapat mengantarkan kepada dosa.
Pada akhirnya, hadis Rasulullah SAW tentang lisan dan kemaluan bukan sekadar peringatan, tetapi juga ajakan untuk selalu berhati-hati dalam setiap ucapan dan tindakan. Dengan menjaga keduanya, seorang Muslim diharapkan mampu menjalani kehidupan yang lebih baik serta memperoleh keselamatan di dunia maupun di akhirat.
Bagi HalamanEditor : Gistin Illiyin
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















