Apa Itu Obsessive Love? Kenali Tanda, Penyebab, dan Bedanya dengan Cinta yang Sehat

Obsessive Love
Apa Itu Obsessive Love? Kenali Tanda, Penyebab, dan Bedanya dengan Cinta yang Sehat. (Foto:

BOGORTODAY.COM – Rasa cinta yang mendalam sering dianggap sebagai hal yang wajar dalam sebuah hubungan. Namun, ketika kasih sayang berubah menjadi keinginan untuk menguasai, mengontrol, dan terus mengawasi pasangan, kondisi tersebut bisa mengarah pada obsessive love atau cinta obsesif.

Sekilas, perilaku ini mungkin tampak seperti bentuk perhatian yang besar. Padahal, cinta obsesif justru dapat menciptakan hubungan yang tidak sehat dan berpotensi menimbulkan kekerasan emosional, bahkan kekerasan fisik.

Dalam hubungan romantis yang sehat, setiap individu memiliki ruang untuk berkembang dan saling menghormati. Sebaliknya, pada cinta obsesif, pasangan sering dipandang sebagai “milik” yang harus selalu berada dalam pengawasan.

Apa Itu Obsessive Love?

Obsessive love merupakan kondisi ketika seseorang memiliki keterikatan yang sangat berlebihan terhadap orang yang dicintainya hingga sulit mengendalikan pikiran dan emosinya.

BACA JUGA :  Jangan Pilih Selingkuh, Ini 7 Cara Efektif Mengatasi Rasa Bosan dalam Hubungan

Menurut penjelasan American Psychological Association, seseorang yang mengalami cinta obsesif cenderung melihat pasangan sebagai objek kepemilikan. Mereka memiliki dorongan kuat untuk terus mengetahui keberadaan pasangan, memastikan hubungan tetap berjalan sesuai keinginannya, serta merasa sangat takut kehilangan.

Meski istilah obsessive love disorder cukup sering digunakan, kondisi ini belum diakui sebagai diagnosis resmi dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders edisi kelima (DSM-5). Namun, para ahli menilai perilaku tersebut dapat berkaitan dengan sejumlah gangguan kesehatan mental tertentu.

Dalam kasus yang berat, obsesi terhadap pasangan dapat berkembang menjadi tindakan manipulatif, ancaman, hingga perilaku yang membahayakan.

Perbedaan Cinta Obsesif dan Cinta yang Sehat

Hubungan yang sehat dibangun atas dasar saling percaya, menghargai, komunikasi yang baik, serta komitmen. Masing-masing pasangan tetap memiliki kebebasan untuk menjalani kehidupan pribadi tanpa rasa curiga yang berlebihan.

BACA JUGA :  Jaro Ade Sampaikan Raperda APBD 2025 usai Pemkab Bogor Raih WTP

Sebaliknya, cinta obsesif lebih didorong oleh kebutuhan untuk memiliki dan mengendalikan pasangan.

Orang yang mengalami cinta obsesif biasanya merasa cemas ketika pasangan tidak berada di dekatnya, mudah diliputi rasa curiga, serta sulit menerima batasan yang dibuat oleh pasangannya.

Dalam beberapa kondisi, obsesi bahkan bisa muncul terhadap seseorang yang sebenarnya tidak memiliki hubungan romantis dengannya. Fenomena ini dikenal sebagai erotomania, yaitu keyakinan yang tidak sesuai kenyataan bahwa seseorang—sering kali figur publik atau orang dengan status sosial lebih tinggi—diam-diam mencintainya.

Editor : Gistin Illiyin

Sumber : CNNIndonesia

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================