
BOGORTODAY.COM – Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor bersiap menggelar uji coba operasional BisKita Trans Pakuan untuk Koridor 3 dan 4 pada tahun 2026 ini. Layanan moda transportasi massal tersebut diproyeksikan mulai beroperasi penuh secara komersial pada awal 1 Januari 2027 mendatang.
Kendati demikian, Pemkot Bogor masih dihadapkan pada kendala keterbatasan armada. Untuk memaksimalkan seluruh total enam koridor yang ada, dibutuhkan sebanyak 68 unit bus. Sementara saat ini, armada BisKita yang tersedia baru mencapai 49 unit.
“Kami sedang membahas rencana intensif implementasi Koridor 3 dan 4. Tahun ini akan kami matangkan semua persiapannya. Masalahnya, kebutuhan total untuk enam koridor itu 68 bus,” ungkap Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, pada Rabu (8/7/2026).
Dedie memaparkan, dengan kondisi saat ini yang baru memiliki 49 armada, Kota Bogor masih kekurangan 19 unit bus lagi. Guna menyiasati defisit tersebut, pemkot berencana menerapkan skema lelang untuk dua koridor, sedangkan Koridor 1 dan 2 akan dikelola secara mandiri oleh pihak operator.
“Banyak aspek teknis yang harus dibahas. Jika dikelola secara mandiri, artinya operasionalnya berjalan non-subsidi. Karena tanpa subsidi, otomatis akan ada penyesuaian tarif. Tadi kami formulasikan agar kemampuan bayar warga (willingness to pay) atau tarifnya tetap terjangkau, kisaran Rp6.000 hingga Rp7.000,” jelas Dedie.
Secara rincian skema, tarif BisKita yang dikelola mandiri (non-subsidi) akan dipatok sebesar Rp6.000 sampai Rp7.000. Sementara itu, empat koridor lainnya yang mendapatkan sokongan dana subsidi dari pemerintah akan mempertahankan tarif di kisaran Rp4.000.
“Selain tarif, kami juga mematangkan persiapan infrastruktur penunjang seperti rambu lalu lintas, marka jalan, hingga kesiapan personel di lapangan,” tambahnya.
Dedie melanjutkan, poin krusial lain yang sedang digodok adalah memastikan proses reduksi (pengurangan) angkot berjalan lancar sesuai regulasi yang berlaku. Ke depan, angkot-angkot di Kota Bogor tidak akan dihilangkan sepenuhnya, melainkan dialihkan perannya menjadi angkutan pengumpan (feeder) bagi enam koridor utama BisKita melalui skema penataan rute ulang (rerouting).
“Kami usahakan uji coba Koridor 3 dan 4 terlaksana tahun ini sambil mencari formula pola yang paling pas. Namun, untuk realisasi penuhnya tentu berkaitan dengan penganggaran subsidi yang dialokasikan pada awal tahun 2027,” papar Dedie.
Belajar dari pengalaman sebelumnya, Dedie menginstruksikan Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bogor agar proses penganggaran dana subsidi di masa transisi nanti tidak mengalami kekosongan atau jeda yang dapat menghentikan operasional bus. Oleh karena itu, proses lelang ditargetkan sudah rampung pada akhir tahun 2026.
“Saya sudah ingatkan Pak Kadishub agar tidak ada jeda transisi anggaran seperti yang dulu-dulu. Harapannya, proses lelang bisa dilakukan di akhir tahun 2026 ini, sehingga per 1 Januari 2027 layanan BisKita bisa langsung tancap gas melayani warga tanpa interupsi,” pungkasnya.
Bagi HalamanWartawan : Aditya Nugraha
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================













