
Senada, Wakil Wali Kota Bogor Jenal Mutaqin juga meminta para pekerja proyek untuk lebih memperhatikan material hasil angkutan agar tidak tercecer di jalur publik.
Kendati demikian, Jenal menjelaskan bahwa berdasarkan klarifikasi pihak kontraktor, pembersihan jalan utama telah dijadwalkan setiap sore sesuai dengan Standard Operating Procedure (SOP).
“Pembersihan tidak dilakukan berulang kali pada siang hari untuk menghindari kemacetan panjang serta genangan air yang dapat mengganggu arus lalu lintas,” ujarnya.
“Oleh karena itu, pembersihan dilakukan setiap sore oleh para petugas yang ditunjuk pihak kontraktor. Setiap sore area disemprot menggunakan alat steam kendaraan. Sudah kami pastikan bahwa proses tersebut terus dilakukan sesuai dengan SOP,” sambungnya.
Di sisi lain, perwakilan PT Promix Prima Karya selaku pelaksana proyek, Dudung Agus mengklaim bahwa setiap kendaraan proyek yang keluar dari area kerja telah melalui proses pembersihan terlebih dahulu.
“Kami semprot pagi, siang, sama menjelang magrib, Pak,” singkatnya.
Sementara itu, pantauan di lapangan, sisa material tanah memang masih terlihat di badan jalan. Meskipun pihak kontraktor mengaku telah melakukan pembersihan dan penyemprotan air secara rutin, mulai dari pintu masuk proyek hingga kawasan Museum Pajajaran atau Bale Ageung, kondisi jalan dinilai belum sepenuhnya bersih.
Penyemprotan air justru membuat permukaan jalan menjadi basah dan licin, bahkan sebagian material tanah yang tertinggal meningkatkan risiko kendaraan tergelincir.
Wartawan : Aditya Nugraha
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















