
Kalimat seperti, “Kamu sedang kesal, ya? Setelah sudah tenang, kita rapikan bersama,” dapat membantu anak belajar mengenali perasaan sekaligus memahami konsekuensi dari tindakannya.
Dengan pendekatan ini, anak tidak hanya belajar mematuhi aturan, tetapi juga mengembangkan kemampuan mengelola emosi.
- Terlalu Fokus pada Anak Harus Langsung Menurut
Dalam kesibukan sehari-hari, banyak orang tua berharap anak dapat segera mengikuti instruksi. Misalnya, langsung memakai sepatu, membereskan mainan, atau berhenti bermain tanpa banyak pertanyaan.
Agar anak cepat patuh, sebagian orang tua memilih menggunakan ancaman atau hukuman. Cara tersebut memang terkadang berhasil dalam jangka pendek, tetapi belum tentu membuat anak memahami alasan di balik aturan.
Sebagai contoh, ketika anak tidak mau merapikan mainan lalu orang tua mengancam akan membuangnya, anak mungkin akhirnya membereskan mainan karena takut. Namun, ia belum tentu memahami pentingnya menjaga barang dan bertanggung jawab.
Begitu juga ketika anak melakukan kesalahan, seperti menumpahkan minuman. Memarahi anak mungkin membuatnya berhenti melakukan hal tersebut saat itu, tetapi tidak selalu mengajarkan cara memperbaiki kesalahan.
Akan lebih baik jika orang tua menjadikan situasi tersebut sebagai kesempatan belajar. Misalnya dengan mengatakan, “Aku tahu berhenti bermain itu tidak mudah. Mari kita cari cara supaya nanti lebih mudah membereskan mainan.”
Pendekatan seperti ini memang membutuhkan kesabaran lebih. Namun, dalam jangka panjang, anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang lebih bertanggung jawab, mandiri, dan mampu menyelesaikan masalah.
Pola Asuh yang Baik Membutuhkan Keseimbangan
Tidak ada orang tua yang selalu sempurna dalam mendidik anak. Kesalahan dalam pengasuhan merupakan bagian dari proses belajar.
Hal terpenting adalah menemukan keseimbangan antara memberikan perlindungan dan memberi ruang bagi anak untuk berkembang. Anak tetap membutuhkan aturan dan arahan, tetapi juga perlu kesempatan untuk mencoba, membuat kesalahan, dan belajar dari pengalaman.
Dengan pola asuh yang penuh perhatian namun tetap memberi kemandirian, anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri dan mampu menghadapi berbagai tantangan di masa depan.
Editor : Gistin Illiyin
Sumber : CNNIndonesia
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















