Kapasitas Air Minim, 3.000 Pelanggan PDAM Tirta Kahuripan Leuwiliang Terancam Tak Dapat Air 24 Jam

“Ini mata air sebenarnya rawan penyerobotan oleh pihak yang tidak berkepentingan. Lokasinya persis di sebelah Rumah Doa Anak Yatim, Kandang Embe Haji Dwi. Sekarang itu makin mengalami pergeseran karena dibangun cor-coran dan segala macam yang seharusnya jadi lokasi resapan. Agak ironis memang, air kami makin mengecil, tapi air kolam Haji Dwi justru makin besar. Ini menyangkut hajat hidup 500 sampai 1.000 pelanggan,” ungkap Dani.

Secara regulasi, Cabang Leuwiliang memikul mandat ekspansi yang sangat luas hingga mencakup 10 kecamatan di masa depan. Jika jaringan pipa di enam kecamatan sisanya, yaitu Kecamatan Jasinga, Nanggung, Cigudeg, Sukajaya, Tenjolaya, dan Pamijahan telah rampung, maka seluruhnya akan dilayani oleh Cabang Leuwiliang.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, PDAM Tirta Kahuripan tengah mengupayakan penambahan unit IPA baru di wilayah Cibungbulang dan Leuwiliang. Penambahan ini tidak hanya ditujukan untuk menutupi defisit 3.000 pelanggan, tetapi juga untuk menyokong kebutuhan energi nasional.

BACA JUGA :  7 Tanda Kamu Hanya Dimanfaatkan dalam Hubungan, Kenali Sebelum Terlambat

“Ada program PSN (Proyek Strategis Nasional) waste to energy (B50/biodiesel) yang membutuhkan pasokan air konisten sebesar 20 liter per detik. Dia mati sedetik saja, ya selesai itu. Jadi pengalirannya harus menggunakan pipa khusus yang jalurnya dedicated, tidak boleh digabung sama sekali dengan pipa pelanggan umum. Kami sangat mendukung program nasional ini, tinggal bagaimana nanti penambahan WTP (Water Treatment Plant) atau IPA-nya direalisasikan,” jelasnya.

Memasuki musim kemarau, penurunan debit air di tingkat produksi berimbas langsung pada banyaknya keluhan pelanggan yang masuk ke kantor cabang. Dani menegaskan bahwa pihaknya terus melakukan langkah taktis dengan mengoperasikan satu unit armada truk tangki bantuan secara nonstop dari pukul 07.00 WIB hingga pukul 21.00 WIB setiap harinya.

BACA JUGA :  Desa di Kabupaten Bogor Andalkan Insinerator, DPRD Akui Belum Ada Solusi Pengganti Sampah

Menurutnya, meski kapasitas tangki tersebut belum mampu mencakup seluruh kebutuhan karena kendala fenomena alam, PDAM Leuwiliang tetap berkomitmen memberikan bantuan sosial ke wilayah non-pelanggan yang mengalami kekeringan ekstrem, seperti di Desa Hambaro, Kecamatan Nanggung.

“Nanggung itu wilayah yang paling kesulitan air. Tipikal tanahnya cadas hitam, jadi tidak bisa menyimpan air. Di Hambaro saja, kalau sudah tiga hari tidak ada hujan, sekitar 300 sampai 400 KK langsung kesulitan air bersih. Kami rutin kirim bantuan air tangki ke sana. Tapi tentu, secara kewajiban kami harus memprioritaskan pelayanan untuk pelanggan terlebih dahulu, baru setelah itu armada bantuan kami geser ke sana,” pungkas Dani.

Halaman:
« 1 2 » Semua

Wartawan : Aditya Nugraha

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================