Benarkah Tidur Setelah Asar Bisa Menghilangkan Akal

Tidur
Ilustrasi Tidur. (Foto: iStock)

BOGORTODAY.COM – Di kalangan masyarakat muslim beredar anggapan bahwa tidur setelah salat Asar dapat menyebabkan seseorang kehilangan akal atau menurunkan kemampuan berpikir. Keyakinan tersebut berasal dari sebuah hadits yang cukup populer.

Hadits yang dimaksud berbunyi:

“Barang siapa tidur setelah Asar, lalu akalnya hilang, maka janganlah ia menyalahkan selain dirinya sendiri.”

Hadits tersebut diriwayatkan dalam Musnad Abu Ya’la dan kerap dijadikan dasar untuk menghindari tidur pada sore hari. Namun, bagaimana kedudukan hadits tersebut menurut para ulama?

Status Hadits tentang Tidur Setelah Asar

Sejumlah ulama hadits menjelaskan bahwa riwayat mengenai larangan tidur setelah Asar memiliki derajat dhaif atau lemah. Dengan demikian, hadits tersebut tidak dapat dijadikan landasan hukum yang kuat sebagaimana hadits-hadits berstatus sahih.

Dalam kajian ilmu hadits disebutkan bahwa riwayat tersebut berasal dari jalur periwayatan yang dinilai lemah oleh para ahli. Meski demikian, hadits ini tetap dikenal luas di tengah masyarakat hingga saat ini.

Hadits Sahih tentang Waktu Tidur

Terdapat riwayat lain yang memiliki status lebih kuat mengenai waktu tidur pada siang hari. Dalam Shahih Al-Adab Al-Mufrad karya Imam Bukhari disebutkan perkataan Khawwat bin Jubair:

BACA JUGA :  Integrasikan 9 Klaster Peduli, DPPKB Kota Bogor Luncurkan Program Ketahanan Keluarga di Harganas 2026

Tidur pada awal siang adalah kebodohan, tidur di pertengahan siang adalah kebiasaan yang baik, sedangkan tidur di penghujung siang adalah kebodohan.”

Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud tidur di pertengahan siang adalah qailulah, yakni tidur singkat sebelum atau sesudah waktu Zuhur.

Tidur qailulah dianjurkan dalam Islam karena dapat membantu memulihkan stamina sebelum melanjutkan aktivitas maupun ibadah pada malam hari.

Apa Itu Tidur Qailulah?

Qailulah merupakan kebiasaan tidur siang dalam waktu singkat, umumnya sekitar 15 hingga 30 menit. Dalam beberapa riwayat, Rasulullah SAW menganjurkan umat Islam melakukan qailulah sebagai bentuk menjaga kebugaran tubuh.

Tidur singkat pada waktu tersebut dinilai bermanfaat untuk mengembalikan energi tanpa mengganggu aktivitas harian.

Mengapa Tidur di Akhir Siang Kurang Dianjurkan?

Sebagian ulama menafsirkan istilah “kebodohan” dalam riwayat tersebut bukan berarti seseorang benar-benar kehilangan akal, melainkan melakukan sesuatu yang kurang tepat pada waktunya.

BACA JUGA :  Sering Kram Kaki? Waspadai 7 Penyakit Ini sebagai Penyebabnya

Tidur terlalu sore dikhawatirkan membuat seseorang menjadi malas, mengganggu aktivitas menjelang malam, atau menyebabkan kesulitan tidur pada waktu malam.

Karena itu, sebagian ulama lebih memandang anjuran tersebut sebagai etika menjaga pola hidup yang baik, bukan larangan mutlak.

Pola Tidur Rasulullah SAW

Dalam berbagai riwayat dijelaskan bahwa Rasulullah SAW memiliki kebiasaan tidur pada awal malam, kemudian bangun pada sepertiga atau pertengahan malam untuk melaksanakan salat tahajud.

Setelah bangun, Nabi SAW biasanya bersiwak, berwudu, kemudian melaksanakan ibadah malam. Beliau juga dikenal tidak tidur secara berlebihan, melainkan secukupnya sesuai kebutuhan tubuh.

Ulama Ibnu Qayyim Al-Jauziyah menyebut pola tidur Rasulullah sebagai salah satu contoh terbaik dalam menjaga kesehatan jasmani sekaligus mendukung kualitas ibadah.

Dengan demikian, anggapan bahwa tidur setelah Asar dapat menyebabkan hilangnya akal tidak didukung oleh hadits yang berstatus sahih. Meski begitu, Islam tetap menganjurkan umatnya menjaga pola tidur yang seimbang dan mengikuti kebiasaan Rasulullah SAW sebagai bentuk ikhtiar menjaga kesehatan dan produktivitas.

Bagi Halaman

Editor : Gistin Illiyin

Sumber : Detik.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================