BOGORTODAY.COM – Di kalangan masyarakat muslim beredar anggapan bahwa tidur setelah salat Asar dapat menyebabkan seseorang kehilangan akal atau menurunkan kemampuan berpikir. Keyakinan tersebut berasal dari sebuah hadits yang cukup populer.
Hadits yang dimaksud berbunyi:
“Barang siapa tidur setelah Asar, lalu akalnya hilang, maka janganlah ia menyalahkan selain dirinya sendiri.”
Hadits tersebut diriwayatkan dalam Musnad Abu Ya’la dan kerap dijadikan dasar untuk menghindari tidur pada sore hari. Namun, bagaimana kedudukan hadits tersebut menurut para ulama?
Status Hadits tentang Tidur Setelah Asar
Sejumlah ulama hadits menjelaskan bahwa riwayat mengenai larangan tidur setelah Asar memiliki derajat dhaif atau lemah. Dengan demikian, hadits tersebut tidak dapat dijadikan landasan hukum yang kuat sebagaimana hadits-hadits berstatus sahih.
Dalam kajian ilmu hadits disebutkan bahwa riwayat tersebut berasal dari jalur periwayatan yang dinilai lemah oleh para ahli. Meski demikian, hadits ini tetap dikenal luas di tengah masyarakat hingga saat ini.
Hadits Sahih tentang Waktu Tidur
Terdapat riwayat lain yang memiliki status lebih kuat mengenai waktu tidur pada siang hari. Dalam Shahih Al-Adab Al-Mufrad karya Imam Bukhari disebutkan perkataan Khawwat bin Jubair:
“Tidur pada awal siang adalah kebodohan, tidur di pertengahan siang adalah kebiasaan yang baik, sedangkan tidur di penghujung siang adalah kebodohan.”
Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud tidur di pertengahan siang adalah qailulah, yakni tidur singkat sebelum atau sesudah waktu Zuhur.
Tidur qailulah dianjurkan dalam Islam karena dapat membantu memulihkan stamina sebelum melanjutkan aktivitas maupun ibadah pada malam hari.
Editor : Gistin Illiyin
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================
















