Cara Membedakan Bisikan Allah, Nafsu, dan Setan Menurut Ulama

Bisikan
Ilustrasi Bisikan. (Foto: Getty Images)

BOGORTODAY.COM – Setiap manusia pernah merasakan bisikan hati yang mendorongnya untuk mengambil suatu keputusan atau melakukan sebuah tindakan. Dalam ajaran Islam, bisikan tersebut tidak selalu berasal dari sumber yang sama. Ada yang merupakan petunjuk dari Allah SWT, ada yang muncul dari hawa nafsu, dan ada pula yang berasal dari godaan setan.

Ulama besar Imam Al-Ghazali dalam kitab Minhajul ‘Abidin menjelaskan bahwa seluruh bisikan hati terjadi atas kehendak Allah SWT, tetapi memiliki sebab dan tujuan yang berbeda-beda. Karena itu, seorang muslim dianjurkan berhati-hati dalam menyikapi setiap dorongan yang muncul di dalam hati.

Empat Jenis Bisikan dalam Hati

Imam Al-Ghazali membagi bisikan hati menjadi empat jenis.

Pertama adalah al-khatir, yaitu bisikan yang menjadi permulaan dari Allah SWT. Kedua adalah bisikan yang mengikuti tabiat manusia, yaitu hawa nafsu.

BACA JUGA :  Benarkah Harus Bisa Bahasa Arab agar Masuk Surga? Simak Ini

Ketiga merupakan bisikan yang datang melalui perantara malaikat dan dikenal sebagai ilham, yang mengarahkan manusia kepada kebaikan. Adapun yang keempat adalah waswasah, yakni bisikan yang berkaitan dengan rayuan setan dan mendorong manusia menuju keburukan.

Cara Mengenali Asal Bisikan

  1. Perhatikan Isi Bisikan

Langkah pertama adalah menilai isi dari bisikan tersebut.

Bisikan yang mengajak kepada kebaikan pada umumnya berasal dari Allah SWT atau malaikat. Sebaliknya, dorongan untuk melakukan maksiat dan keburukan merupakan ciri bisikan yang berasal dari hawa nafsu atau setan.

Meski demikian, Imam Al-Ghazali mengingatkan bahwa setan terkadang menggunakan tipu daya dengan membungkus rayuannya dalam bentuk yang tampak baik agar manusia mudah terjerumus.

  1. Ukur dengan Syariat Islam

Cara berikutnya adalah membandingkan isi bisikan dengan ajaran syariat.

Jika dorongan tersebut sejalan dengan Al-Qur’an, sunah, dan ketentuan hukum Islam, maka besar kemungkinan itu merupakan bisikan yang baik. Sebaliknya, apabila bertentangan dengan syariat atau mengarah kepada perkara yang haram maupun syubhat, maka bisikan tersebut patut diwaspadai.

  1. Meneladani Orang Saleh
BACA JUGA :  MPLS Sekolah Rakyat 2026 Digelar 19 Hari, Ini Bedanya

Apabila masih muncul keraguan, Imam Al-Ghazali menyarankan agar melihat bagaimana para ulama dan orang-orang saleh menyikapi persoalan serupa.

Jika dorongan tersebut sesuai dengan jalan para ulama, maka hal itu menjadi tanda yang baik. Namun, jika justru mengikuti jalan yang menyimpang, maka sebaiknya ditinggalkan.

  1. Menguji dengan Hawa Nafsu

Bisikan juga dapat diuji melalui reaksi hawa nafsu.

Jika hawa nafsu cenderung menolak suatu ajakan karena bertentangan dengan keinginannya, sementara ajakan tersebut mengarah kepada ketaatan, maka hal itu dapat menjadi pertanda bisikan yang baik.

Editor : Gistin Illiyin

Sumber : Detik.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================