
Menurutnya, istilah tersebut bukan hanya merujuk pada sejarah masa lalu, tetapi juga menjadi metafora politik yang membawa pesan tentang pengkhianatan dari dalam kelompok sendiri.
“Metafora ini membangkitkan memori kolektif bangsa tentang trauma pengkhianatan dari dalam,” kata Zen seperti dikutip dari laman UMM.
Dalam komunikasi politik, penggunaan istilah semacam ini memiliki dampak tertentu, terutama ketika diarahkan kepada kelompok masyarakat sipil yang menjalankan fungsi pengawasan terhadap pemerintah.
Dampak Penggunaan Istilah Londo Ireng
Zen mengatakan, dalam perkembangan politik saat ini, kelompok seperti jurnalis, lembaga swadaya masyarakat (LSM), dan aktivis kerap menghadapi tudingan membawa kepentingan asing ketika menyampaikan kritik terhadap pemerintah.
Menurutnya, pelabelan semacam itu perlu diwaspadai karena dapat memengaruhi kepercayaan publik terhadap kelompok masyarakat sipil yang memiliki peran sebagai pengawas jalannya pemerintahan.
“Kedaulatan negara memang harus dijaga dari infiltrasi asing. Namun, jangan sampai setiap suara kritis dari jurnalis maupun LSM dengan mudah disederhanakan sebagai tindakan ‘Londo Ireng’,” ujar Zen.
Istilah Londo Ireng pada akhirnya memiliki makna yang berbeda sesuai konteks penggunaannya. Secara historis, istilah ini berkaitan dengan kelompok yang membantu kolonialisme, sementara dalam ranah politik modern istilah tersebut kerap digunakan sebagai simbol untuk menggambarkan pihak yang dianggap tidak sejalan dengan kepentingan nasional.
Editor : Gistin Illiyin
Sumber : CNNIndonesia
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















