Strategi Pendidikan Awal untuk Memutus Mata Rantai Kekerasan Anak di Makassar

KEKERASAN terhadap anak di Makassar masih menjadi masalah serius meski berbagai upaya sudah dilakukan. Tahun 2024, tercatat sebanyak 381 kasus kekerasan kepada anak di Makassar, dari total 520 kasus yang dilaporkan terhadap perempuan dan anak.

Strategi Pendidikan Awal untuk Memutus Mata Rantai Kekerasan Anak di Makassar
Nurul Fajri Sya’bani (1251100182) (Mahasiswa Program Studi Manajemen Pendidikan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)

Oleh: Nurul Fajri Sya’bani (1251100182)

(Mahasiswa Program Studi Manajemen Pendidikan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)

KEKERASAN terhadap anak di Makassar masih menjadi masalah serius meski berbagai upaya sudah dilakukan. Tahun 2024, tercatat sebanyak 381 kasus kekerasan kepada anak di Makassar, dari total 520 kasus yang dilaporkan terhadap perempuan dan anak.

Bahkan pada periode Januari – Oktober 2025, tercatat 134 kasus kekerasan seksual terhadap anak menunjukan bahwa kekerasan terhadap anak, terutama kekerasan seksual, tetap menjadi ancaman nyata. Angka angka ini sudah cukup untuk menyadarkan kita: perlindungan anak dan keadilan bagi anak di Makassar harus menjadi prioritas, bukan sekedar wacana.

Dalam konteks tersebut, pendidikan awal dan intervensi sejak usia dini memegang peranan strategis. Apalagi, ketika disandingkan dengan kebijakan pemerataan layanan pendidikan dan kesehatan termasuk di wilayah pulau maka potensi pencegahan dan perlindungan bias jauh lebih kuat.

Artikel ini bertujuan untuk menggali bagaimana pendidikan awal dikombinasikan dengan kebijakan publik dapat menjadi strategi efektif untuk memutus mata rantai kekerasan ank di Makassar: dari akar perilaju di usia dini, hingga akses layanan dan perlindungan bagi anak di seluruh wilayah daratan dan pulau.

Data dan Fakta Kasus Kekerasan Terbaru:

  1. Pada 2024, dari total 520 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, sekitar 382 kasus (73,3%) menimpa anak.
  2. Dari jenis kekerasan terhadap anak tersebut: kekerasan seksual adalah yang paling dominan (179 kasus), disusul kekerasan fisik (175 kasus), kekerasan psikis (61), serta bentuk lain seperti penelantaran, bullying, trafficking, dan eksploitasi. Tahun 2025 (periode Januari-Oktober), tercatat 134 kasus kekerasan seksual terhadap anak terdiri dari 112 korban perempuan dan 22 korban laki laki.
  3. Berdasarkan laporan pertama semester 2025, UPTD PPA Makassar mencatat 265 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, dengan anak sebagai korban terbanyak 146 anak (98 perempuan, 48 laki laki)
BACA JUGA :  Piala AFF 2026 Jadi Ajang Pembuktian Kualitas Pemain Domestik Racikan John Herdman

Angka angka ini menunjukkan bahwa kekerasan terhadap anak bukan masalah kecil atau minoritas, melainkan realitas serius yang terus berlangsung di kota ini.

Dampak Kekerasan pada Anak

Berdasarkan literatur penelitian di Makassar: kekerasan, terutama kekerasan seksual dan psikologis, stress, kehilangan kepercayaan orang diri, hingga gangguan perkembangan sosial dan emosional. Anak yang tumbuh dalam lingkungan yang keras atau traumatis berisiko mengulangi siklus kekerasan ketika dewasa, atau mengalami kesulitan dalam hubungan sosial, pendidikan, dan produktivitas masa depan, menunjukan bahwa kekerasan anak bukan hanya masalah individu, tetapi masalah sosial jangka panjang.

Peran Pendidikan Awal dalam Pembentukan Karakter Anak

Pendidikan usia dini merupakan tahap penting dalam pembentukan karakter, moral, dan empati anak. Pada masa ini, anak belajar mengenali emosi, membedakan perilaku baik dan buruk, serta memahami nilai kasih saying dan toleransi. PAUD berfungsi sebagai tempat pertama anak belajartentang interaksi sosial yang sehat dan tanpa kekerasan.

BACA JUGA :  Perdana, Peringatan HJB ke-544 Digelar di Citalahab Malasari

Keluarga juga memainkan peran sentral dalam pendidikan awal. Pola pengasuhan orang tua yang hangat, konsisten, dan penuh empati akan membentuk perilaku anak yang positif. Selain itu, lingkungan belajar yang aman, ramah, dan suportif sangat penting untuk mengurangi risiko kekerasan. Guru harus menjadi teladan dalam menciptakan interaksi yang penuh kasih sayang dan menerapkan disiplin positif tanpa hukuman fisik maupun verbal.

Pembentukan Karakter dan Perilaku

Usia dini, terutama PAUD hingga SD adalah periode krusial dalam pembentukan karakter, emosi, dan moral. Anak pada usia ini sangat resptif terhadap nilai: empati, toleransi, penyelesaian konflik, saling menghormati, dan komunikasi sehat. Jika sejak kecil di biasakan lingkungan positif, empati, dan penyelesaian konflik tanpa kekerasan, maka ketika dewasa, kemungkinan mengulangi perilaku kekerasan bias ditekan.

Dengan pendidikan karakter sejak dini, anak akan belajar bahwa kekerasan bukanlah solusi, tetapi dialog, empati, dan saling pengertian adalah pilihan utama. Ini menjadi fondasi penting untuk generasi masa depan yang lebih damai dan beradab.

Sinergi antara keluarga dan lembaga PAUD

Editor : Admin

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================