Oleh : Agus Jatmika (Pemerhati Sosial Komunikasi)
RAMADAN telah memasuki hari-hari terakhir. Waktu terasa berjalan lebih cepat dari biasanya. Bila pada awal Ramadan masjid dipenuhi langkah-langkah yang bergegas menuju shaf tarawih, kini perlahan shaf itu tampak semakin maju.
Sebagian jamaah masih bertahan dalam kekhusyukan ibadah, tetapi sebagian lainnya mulai larut dalam ritme yang berbeda seperti undangan buka bersama, keramaian pusat perbelanjaan, hingga kesibukan mencari tiket mudik.
Di ruang-ruang percakapan keluarga dan media sosial, topik pun berubah. Bila di awal Ramadan orang banyak berbicara tentang niat berpuasa dan ibadah, kini pembicaraan beralih pada perjalanan pulang.
Tiket kereta, kepadatan jalan tol, hingga rencana oleh-oleh menjadi bagian dari cerita sehari-hari. Mudik seakan menjadi kata yang paling sering disebut menjelang akhir Ramadan.
Namun mudik bukan sekedar perjalanan dari kota ke kampung halaman, lebih dari itu sebuah perjalanan rindu.
Banyak orang tidak pernah benar-benar mengucapkan kata rindu, tetapi mereka menunjukkannya melalui perjalanan panjang yang ditempuh dengan sabar.
Dalam diam, mudik menjadi bahasa hati yang paling jujur, sebuah bahasa yang mengatakan bahwa sejauh apa pun manusia pergi, selalu ada keinginan untuk kembali. Kembali kepada orang-orang yang membesarkannya. Kembali kepada rumah yang pernah menyimpan masa kecilnya.
Editor : Gistin Illiyin
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================
















