
Dalam perspektif sosial komunikasi, mudik adalah pesan kolektif masyarakat tentang pentingnya keluarga, kenangan, dan akar kehidupan.
Ketika jutaan orang pulang dalam waktu yang hampir bersamaan, itu bukan hanya perpindahan manusia, melainkan sebuah peristiwa sosial yang mengingatkan kita bahwa manusia selalu membutuhkan tempat untuk kembali.
Selain itu Ramadan sebenarnya mengajarkan makna pulang yang lebih dalam dari sekedar perjalanan fisik. Puasa adalah perjalanan batin untuk kembali kepada diri yang lebih jernih.
Dalam keheningan sahur, dalam doa-doa malam, dan dalam usaha menahan diri sepanjang hari, manusia diajak untuk melihat kembali hidupnya.
Ramadan seperti pengingat lembut bahwa pada hakikatnya manusia adalah perantau di dunia. Kita sibuk mengejar banyak hal, hingga sering lupa arah pulang yang sebenarnya.
Oleh karena itu, sebelum kita benar-benar pulang ke kampung halaman, Ramadan mengajarkan satu perjalanan yang lebih penting, pulang kepada hati yang bersih, pulang kepada hubungan yang diperbaiki, dan pulang kepada Tuhan.
Sebab pada akhirnya, rumah bukan hanya tempat, lebih dari itu sebuah keadaan jiwa. Saat menjelang hari raya, Ramadan seakan berbisik pelan kepada kita semua: pulanglah, tetapi jangan lupa pulang yang sebenarnya. Pulang sebelum benar-benar pulang.
Editor : Gistin Illiyin
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















