BOGORTODAY.COM – Pemerintah Indonesia tengah berupaya menekan kenaikan harga plastik yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir.
Menteri Perdagangan, Budi Santoso, menyampaikan harapannya agar harga plastik dapat mulai turun pada bulan April seiring langkah diversifikasi sumber impor bahan baku.
Selama ini, kebutuhan nafta—bahan utama dalam produksi biji plastik—banyak dipenuhi dari kawasan Timur Tengah. Namun, situasi geopolitik yang memanas, termasuk konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel, berdampak pada kelancaran distribusi bahan tersebut.
Mencari Sumber Impor Baru
Untuk mengatasi gangguan pasokan, pemerintah kini menjajaki alternatif impor dari sejumlah negara seperti India, Amerika Serikat, dan kawasan Afrika. Meski demikian, proses ini masih berlangsung dan belum membuahkan hasil konkret.
Pemerintah masih menunggu kepastian ketersediaan barang dari negara-negara tersebut sebelum pengiriman bisa dilakukan. Selain itu, kendala logistik juga menjadi tantangan tersendiri karena jalur pengiriman internasional ikut terdampak situasi konflik.
Akibatnya, hingga saat ini industri plastik dalam negeri masih bergantung pada stok yang tersedia. Pemerintah pun terus memperluas pencarian ke negara lain melalui jaringan perwakilan perdagangan di berbagai wilayah.
Persaingan Global Perebutan Bahan Baku
Indonesia tidak sendirian dalam upaya mendapatkan pasokan nafta. Sejumlah negara produsen plastik seperti Taiwan, Korea Selatan, Thailand, Vietnam, dan Singapura juga bersaing untuk mendapatkan bahan baku yang sama.
Situasi ini membuat pasokan semakin terbatas dan harga menjadi sulit dikendalikan. Oleh karena itu, strategi diversifikasi sumber impor menjadi langkah penting untuk menjaga stabilitas industri dalam negeri.
Editor : Gistin Illiyin
Sumber : CNNIndonesia
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================
















