BOGORTODAY.COM – Wilayah pelayanan barat Kabupaten Bogor tengah menghadapi tantangan serius dalam pemenuhan kebutuhan air bersih. Perumda Air Minum Tirta Kahuripan Kantor Cabang Leuwiliang mencatat adanya kesenjangan yang cukup besar antara jumlah pelanggan aktif dengan kapasitas produksi air yang tersedia saat ini.
Kepala Cabang PDAM Tirta Kahuripan Leuwiliang, Dani Prasetya, mengungkapkan bahwa dari total pelanggan yang terdaftar, tidak semuanya bisa terlayani selama 24 jam penuh akibat keterbatasan debit air.
“Di Kantor Cabang PDAM Tirta Kahuripan Leuwiliang, untuk empat kecamatan itu ada 17.000 pelanggan yang terdaftar. Yang aktif tiap bulan dan masih membayar yang kita layani itu sekitar 15.000 sampai 15.200-an. Tapi airnya kurang. Airnya itu hanya ada 120 liter per detik, itu hanya cukup untuk 12.000 pelanggan. Berarti ada sekitar 3.000-an pelanggan yang mungkin tidak akan mendapat pasokan air selama 24 jam penuh,” ujar Dani, Rabu (15/7/2026).
Saat ini, kata Dani, pasokan air bersih untuk pelanggan PDAM Leuwiliang bersumber penuh dari aliran Sungai Cianten yang diolah melalui dua Instalasi Pengolahan Air (IPA). Debit air IPA Leuwiliang mencapai 60 liter perdetik yang Berlokasi di Kampung Garedog, Desa Barengkok, Kecamatan Leuwiliang.
Selain itu, IPA Pasir Angin dengan debit air 60 liter perdetik yang berlokasi di Kampung Pasir Angin, Desa Cemplang, Kecamatan Cibungbulang, tepat di belakang area situs purbakala.
Selain kedua instalasi tersebut, PDAM memiliki sumber alternatif berupa Mata Air Cibuntu di Cicadas yang menghasilkan 5 hingga 10 liter per detik untuk melayani sekitar 500 hingga 1.000 pelanggan dari Puri Araya hingga pertigaan Cikampak.
Namun, Dani mengeluhkan kondisi mata air bersejarah yang dikuasai PDAM sejak tahun 1978 ini karena terus mengalami penyusutan akibat pembangunan di wilayah resapan.
Wartawan : Aditya Nugraha
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================
















