Untitled-13JAKARTA, TODAY — Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Ke­menterian Keuangan (Kemenkeu), menye­diakan kuota 5.000 penerima (awardee) beasiswa pada tahun ini. Beasiswa diberikan baik un­tuk melanjutkan studi di dalam maupun luar negeri.

Direktur Utama LPDP, Eko Prasetyo mengungkapkan, target jumlah awardee ini naik dari tahun lalu yang ditetapkan sebesar 4.500 orang yang diseleksi antara Februari, Mei, Agustus, dan November. “Ta­hun ini kita target bisa salurkan ke 5.000 awardee. Prinsipnya karena kita setiap tahun harus bertambah jumlah penerima beasiswanya,” kata Eko di acara Welcom­ing Alumni LPDP 2016 di Hotel Borobudur, Jakarta, Minggu (31/1/2016).

Ia melanjutkan, tahun ini Kemenkeu menga­lokasikan Rp 5 triliun sebagai tambahan un­tuk dana abadi yang dike­lola Badan Layanan Umum (BLU) LPDP. Sementara sejak berdiri tahun 2012, dana abadi LPDP saat ini sudah mencapai Rp 15,6 triliun.

“Spending (alokasi) untuk target 5.000 awardee tahun 2016 adalah Rp 1,3 triliun, itu diambil dari dana abadi dan return hasil investasi yang tahun ini sudah Rp 20,6 triliun,” terang Eko.

Kendati demikian, lanjut­nya, hingga akhir tahun ang­garan untuk penerima beasiswa bisa ditambah maksimal hingga Rp 1,7 triliun jika ada penambahan jumlah penerimanya. “Dari dana itu sebesar Rp 1,3 triliun akan kami alokasikan, tapi itu kan alokasi awal. Tapi target kami tahun ini bisa sampai Rp 1,7 triliun. Kalau yang daftar dengan kualifikasinya di atas yang kita ha­rapkan yakni 5.000 orang, bisa kita tambah sesuai kebutuhan,” jelas Eko.

Sebagai informasi, per Januari 2016, LPDP saat ini memiliki alumni sebanyak 538 orang, 104 orang telah menyelesaikan studi pada tahun 2014, dan sebanyak 434 orang berhasil merampungkan studi pada tahun 2015. Alumni tersebut tersebar dari univer­sitas baik dalam maupun luar negeri.

Sejak tahun 2012, Kementerian Keuan­gan (Kemenkeu) rajin menyalurkan bea­siswa lewat Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Eko mengungkapkan, Kemenkeu memprioritaskan sejumlah ju­rusan studi yang bisa diterima aplikasi bea­siswanya. Hal ini membuat peluang pendaf­tar untuk diterima di LPDP lebih besar.

“Kita prioritaskan untuk pendaftar yang merencanakan studi di peternakan, perta­nian, kesehatan, kedokteran, dan maritim. Karena ini masuk prioritas pembangunan juga, jadi bisa dipakai saat mereka kembali untuk mengabdi,” katanya.

Kendati demikian, bukan berarti hanya jurusan tersebut yang diprioritaskan untuk diterima. Ia mencontohkan, jurusan di luar tersebut, asalkan memiliki keterkaitan den­gan sektor-sektor tersebut juga akan masuk ke skala prioritas.

“Misal ambil jurusan ekonomi, tapi eko­nomi yang berhubungan dengan manaje­men pertanian, atau maritim itu kita dahu­lukan. Atau yang lagi kita dulukan ekonomi kreatif. Jadi kalau mau diterima LPDP harus cerdas pilihannya,” terang Eko.

Di luar itu, sambung Eko, Kemenkeu juga menyediakan jalur khusus untuk pendaftar dari jalur afirmatif seperti daerah terpencil dan pendaftar yang masuk golon­gan ekonomi kurang mampu. “Kita wajib minimal sediakan 30% untuk pendaftar afirmatif, artinya peluang dia lebih besar dibanding harus bersaing di reguler. Anda misal dari Nunukan atau daerah terpencil lain bisa masuk jalur khusus ini. Begitu pun anak berprestasi dari yang kurang mampu,” kata Eko. “Standar pun tidak kita samakan. Yang reguler harus bisa Bahasa Inggris, yang afirmatif nilai TOEFL pas-pasan tak masalah, asal sesuai kriteria. Nanti kita se­diakan 1 tahun kursus bahasa yang juga kita tanggung biayanya,” imbuhnya.

Eko mengungkapkan, tahun lalu jumlah pendaftar LPDP sebanyak 54.000 peserta, dengan jumlah yang diterima aplikasinya sebesar 4.500 orang. Tahun ini pihaknya menambah jumlah penerimanya menjadi 5.000 orang. Alokasi yang dana yang diang­garkan sebanyak Rp 1,3-1,7 triliun hingga akhir tahun.

Eko juga mengungkapkan, untuk tahun 2016, pihaknya membatasi awardee yang ke luar negeri hanya sekitar 45%. Hal ini dilakukan agar orientasi pendaftar mulai mengisi kursi universitas-universitas dalam negeri yang masih sepi peminat. “Dengan kemampuan average (rata-rata), masa mau ke luar. Nanti kampus lokal jadi galau, jan­gan sampai malah kampus-kampus lokal ke­hilangan best talent (talenta terbaik), diba­tasi agar bisa jadi kampus yang world class university,” kata dia.

Diakuinya, selama ini banyak peserta yang mendaftar beasiswa LPDP agar bisa kuliah di luar negeri. Padahal, kualitas uni­versitas lokal saat ini sudah banyak yang berstatus global. “Pendaftar yang pilih uni­versitas lokal kita harapkan bisa 55-60% dari 5.000 yang akan diterima. Januari ini masih awal-awal, jadi baru 6.000 pendaf­tar, tahun 2015 yang daftar sampai 54.000 orang. Terbanyak ke program master, ham­pir 70%,” jelas Eko.

Selain itu, Kemenkeu juga tengah men­jajaki program pendidikan dengan universi­tas tujuan awardee agar menyelenggarakan pendidikannya di Indonesia. “Kemudian join dalam proses pendidikan, misal pendi­dikan master 1 tahun di Belanda, 1 tahun lagi di UI (Universitas Indonesia). Kemudian ada dosen Belanda yang ke sini bisa juga menga­jar untuk periode tertentu, ini kan menghe­mat biaya tuition,” ungkap Eko.

Sementara itu, pihaknya juga member­lakukan seleksi yang lebih ketat dibanding tahun-tahun sebelumnya. “Syarat di tahun 2016 yang ke luar negeri lebih ketat. Den­gan kemampuan average (rata-rata) masa maunya di luar (negeri), kita hanya support untuk yang benar-benar punya karakter, kemampuan bahasa, personal plan dan se­bagainya,” ujar Eko.

Secara tekhnis, penambahan syarat tersebut seperti pada kewajiban pem­buatan essai dalam Bahasa Inggris, yang sebelumnya bisa diajukan dalam Bahasa Indonesia. Standar nilai penerimaan (pass­ing grade) juga dinaikkan, khususnya saat penilaian saat seleksi wawancara. “Kriteria leadership, kemudian rencana pengabdian sekembalinya dari luar. Passing grade jelas lebih tinggi tahun ini, sebelumnya essai bisa Bahasa Indonesia, khusus yang mengajukan ke luar harus Bahasa Inggris,” terangnya.

Sementara ketentuan lainnya masih sama dengan tahun lalu. Syarat umum tersebut seperti IPK (indeks prestasi kumu­latif) 3 untuk S2, dan 3,25 untuk S3. Untuk TOEFL baik S2 dan S3 paling tidak 550, se­dangkan IELTS 6,5.

(Yuska Apitya Aji)