KakianTingginya minat pelancong untuk membawa oleh-oleh khas Bogor mengilhami Rizka Wahyu Romadhona untuk berbisnis talas. Memanfaatkan talas, ia meraciknya menjadi kue lapis. Panganan ciptaan­nya kini ditiru puluhan pengusaha kuliner di Bogor.

(Yuska Apitya Aji/dtk) intennadya)

RIZKA merupakan wanita di balik Lapis Talas Bogor Sangkuriang. Inspirasi usaha itu datang ketika ia sering merasa repot kala membawa buah talas dari Bogor sebagai oleh-oleh untuk saudara di kampung halamannya Surabaya, Jawa Timur. Rizka yang memang hobi berdagang itu pun memiliki ide untuk menjadikannya makanan siap saji yang lebih praktis dibawa.

Kue lapis memang bukan panga­nan khas Bogor. Rizka terinspirasi untuk membuat produk tersebut dari kue lapis asal Surabaya. Namun ia membuatnya dengan bahan uta­ma talas yang merupakan oleh-oleh khas Bogor. Kue lapis milik Rizka ini diklaim sebagai yang pertama meski saat ini cukup banyak ‘peniru’ yang menghadirkan olahan talas serupa. Saat ini, Kue Lapis Bogor Sangkuri­ang sudah memiliki empat outlet di Bogor, Jawa Barat.

Rizka mengatakan jika usaha yang dirintis dengan sang suami ini dibangun modal yang tidak banyak yakni sekitar Rp 500 ribuan. Saat itu ia juga meminjam sejumlah per­alatan dapur dari sang ibu mertua. Awalnya, kue ini hanya dijual kepada para tetangga. Berkat masuk ke ber­bagai komunitas dan pameran, Rizka berhasil memasarkannya secara luas hingga bisa terkenal seperti seka­rang.

Perkembangan bisnis Rizka juga cukup terbantu oleh pelatihan-pelati­han yang diikutinya, salah satunya Wirausaha Muda Mandiri. Wanita 32 tahun itu juga senang berilmu kepada para senior wirausahawan yang bera­da di bidang yang sama. “Kita diban­tu dari segi promosi dan pelatihan. Di situ, kita diberi banyak pelatihan untuk meningkatkan omzet manaje­men, kualitas produk. Apalagi sebel­umnya kita pernah jualan bakso dan bangkrut karena salah manejemen. Kita juga difasilitasi untuk promosi ke media dan buka stand di event Bank Mandiri,” kata Rizka, Selasa, (1/12/2015).

Sebelum membuka usaha Lapis Bogor Sangkuriang ini, Rizka me­mang sudah sering berjualan bahkan pernah mengalami kebangkrutan. Kala itu, ia menjajakan bakso yang dipasarkan ke teman-teman kan­tornya. Usaha tersebut pernah cukup berkembang hingga menghasilkan keuntungan yang melebihi gajinya. Di tahun 2010, ia pun memutuskan untuk berhenti bekerja dan fokus pada wirausaha. Sayangnya, bisnis ini gagal karena beberapa oknum nakal yang membuat kualitas bakso menurun.

Belajar dari kesalahan tersebut, saat ini Rizka sangat memperhatikan pengelolaan tenaga kerja. Terlebih ia juga sempat kewalahan ketika peker­janya mencapai 50 orang. Kala itu, Rizka bahkan sampai ingin menutup usaha karena pusing menghadapi banyaknya staff. Untungnya, per­masalahan tersebut bisa diatasi den­gan pengaturan yang jelas, tertulis serta memberikan fasilitator.

Wanita lulusan S-2 Manajemen Bisnis IPB tersebut juga pernah men­emui kendala ketika berniat memper­dayakan anak-anak putus sekolah. “Awalnya saya ingin memberdaya­kan anak putus sekolah. Tapi banyak yang setengah hari kerja langsung kabur karena ternyata ada penghasi­lan yang lebih besar. Sekarang masih ada beberapa yang mau kerja. Tapi kebanyakan pekerjanya adalah anak-anak lulusan SMK karena kita sudah pakai mesin,” jelas Rizka.

Lapis Talas Bogor Sangkuriang di­jual dengan harga Rp 28 ribu. Selain lapis talas, Rizka juga sudah melaku­kan ekspansi dengan menghadirkan lapis Surabaya. Kue tersebut sudah dipasarkan di Surabaya selama tiga bulan ke belakang.