Pekan Imunisasi Nasional (PIN) Polio dimulai serentak mulai Selasa (8/3/2016) hari ini. PIN polio ke-6 kalinya ini bertujuan untuk menghilangkan penyakit polio dari muka bumi. Seperti yang masih terjadi di beberapa negara yakni Af ganistan, Nigeria dan Pakistan. Sementara di Indonesia sebenarnya sudah terbebas dari polio dan dinyatakan dengan sertifikat WHO.

Oleh : Yuska Apitya Aji
[email protected]

Kabid Pencegahan Pengenda­lian Penyakit pada Dinkes Kota Bogor, Eddy Darma men­gatakan, vaksin polio ini tetap harus dilakukan untuk memi­nimalisir ancaman virus polio yang bisa disebarkan lewat interaksi manusia. Vak­sin ini ditargetkan bagi seluruh bayi dan balita se-Kota Bogor secara gratis di 1050 pos pelayanan yang sudah tersebar. Se­but saja di posyandu, puskesmas, rumah sakit bersalin dan Rumah Sakit (RS) Mar­zuki Mahdi bagi anak penderita HIV/AIDS. “Bayi atau balita yang sudah divaksin se­hari sebelumnya pun tetap harus divaksin polio,” ujar Eddy.

Eddy menambahkan, sedikitnya 0,2 persen dari anak yang divaksin terkadang mengalami efek samping seperti mencret dan muntah. Namun, hal itu merupakan efek wajar yang tidak perlu dikhawatirkan dan bisa langsung diperiksa ke puskesmas. Penyakit polio ini merupakan virus yang menyerang sistem syaraf manusia melalui pembuluh darah tergantung dititik mana virus menyerang. Sehingga menyebabkan orang tersebut menderita lumpuh per­manen dan tidak bisa disembuhkan. “Vak­sin polio tetes ini di produksi Biofarma asal Indonesia sehingga tidak perlu khawatir adanya minyak babi pada vaksin,” jelas Eddy.

Sementara itu, Ketua Majelis Ulama In­donesia (MUI) Kota Bogor Adam Ibrahim mengatakan, dalam ajaran agama Islam diperintahkan untuk menjaga dan memeli­hara kesehatan diri. Sehingga selama tidak bertentangan dengan agama vaksim polio diperbolehkan seperti yang difatwakan MUI Pusat. “Imunisasi polio itu kan untuk pence­gahan dari penyakit jadi sudah seharusnya dilakukan,” pungkas Adam. (*)

loading...