MANILA TODAY – Nasib 10 warga neg­ara Indonesia (WNI) yang disandera oleh kelompok bersenjata Abu Sayyaf di Filipina, belum jelas sampai saat ini. Sejumlah upaya pembebasan pun terus dilakukan pemerintah untuk me­nyelamatkan mereka.

Kepolisian Republik Indonesia (Polri) dan Tentara Nasional Indonesia (TNI) tidak bisa turut serta dalam pem­bebasan 10 WNI sandera kelompok militan Abu Sayyaf di Fillipina. Oleh karena itu, Kapolri Jenderal Badrodin Haiti berpesan agar pemerintah Fili­pina fokus terhadap keselamatan para sandera. “Filipina di konstitusinya tidak mungkin ada kekuatan militer asing untuk ke sana sehingga tidak mungkin kami melakukan operasi di sana. Kami harap Filipina (bisa meny­elamatkan), dan pesan paling utama bagaimana sandera itu bisa selamat,” kata Badrodin di Markas Besar Polri, Jakarta, Rabu (6/4/2016).

Badrodin mengatakan, berdasar­kan informasi yang dia peroleh, para sandera masih berada di tempat yang sama, meski tidak menyebutkan pasti­nya. Pihak perusahaan juga, menurut­nya, masih terus berkomunikasi den­gan pelaku untuk bernegosiasi.

Ketika ditanya apakah Polri ber­pegang pada kebijakan penyelamatan tanpa tebusan, Badrodin hanya men­jawab bahwa prioritas pemerintah tetap pada penyelamatan sandera.

Sementara itu, Kepala Divisi Hubun­gan Internasional Inspektur Jenderal Ketut Untung Yoga secara terpisah mengatakan Polri terus berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait meski tidak bisa turun langsung pada operasi peny­elamatan. “Berdasarkan informasi ter­akhir tim penyelamat sudah mendekati posisi sandera, tapi belum ada infor­masi lebih lanjut,” ujarnya.

Kapal tongkang Anand 12 dan Brah­ma 12 yang membawa 7 ribu ton batu bara bertolak dari Banjarmasin, Kali­mantan Selatan, menuju Filipina pada 15 Maret. Kedua kapal kemudian diba­jak Abu Sayyaf di perairan Sulu pada 27 Maret lalu.

Kapal Brahma 12 sudah lebih da­hulu dilepas dan kini berada di tangan otoritas Filipina. Sementara 10 WNI ABK Anand 12 hingga saat ini masih dis­andera militan Abu Sayyaf, yang me­minta uang tebusan sekitar Rp15 miliar.

(Yuska Apitya/net)

loading...