Untitled-6

Tingkat pengetahuan pada pentingnya kesehatan sering kali tidak sejalan dengan perilaku yang terlihat dalam keseharian

Oleh : ADILLA PRASETYO WIBOWO
[email protected]

Perlu keinginan dan komitmen yang kuat untuk hidup sehat. Caranya, mulailah dengan makan makanan bergizi seimbang, tidak merokok dan tidak mengonsumsi alkohol, rutin berolahraga, serta kelola stres dengan baik. Keinginan yang kuat untuk sehat itulah yang membuat Eka Eden (25), karyawati biro perjalanan di Jakarta, rajin berolahraga. “Awalnya, saya menyadari berat badan saya yang terus bertambah. Ini tidak baik untuk kesehatan. Ada teman saya yang mengalami kegemukan juga karena gaya hidup tidak sehat,” kata Eka, Minggu pagi (17/5/2015). Asam urat, rematik, kolesterol tinggi, dan diabetes menjadi penyakit yang dikhawatirkan Eka saat tubuhnya masih berbobot 63 kilogram. Menurut dia, tubuh yang berat itu sangat berisiko terhadap penyakit. Selain berolahraga, Eka selektif memilih makanan. Ia juga terbiasa mengonsumsi beras merah yang rendah kadar gulanya. “Setelah tahu bahaya penyakit tersebut, saya mulai joging setiap sore sekitar dua jam. Dua tahun berjalan, berat badan saya stabil di 49 kilogram hingga kini dan tak pernah sakit.” ujar Eka. Pola hidup sehat juga dijalani Ihram (39), pedagang baju. Menurut Ihram, menjaga kadar kolesterol dengan olahraga secara rutin dapat menstabilkan tekanan darah. “Tidak perlu olahraga berat. Saya selalu meluangkan waktu dua hingga tiga kali dalam seminggu untuk jalan kaki selama 45 menit, kemudian dilanjutkan angkat beban,” kata Ihram. Namun, kebanyakan orang, menurut Ihram, malas berolahraga. Hasilnya, penyakit yang dahulu ada di lanjut usia, seperti stroke, jantung koroner, kanker, dan diabetes, kini sudah menimpa kaum muda. Lain halnya dengan Dewata Guntur (45), pegawai negeri sipil di Pemerintah Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Guntur dipaksa keadaan untuk hidup lebih sehat. Jika tidak, penyakit yang dideritanya kian parah. Meskipun usianya baru 45 tahun, Guntur telah mengalami hipertensi. Suatu hari pada 2012, ia tiba-tiba terjatuh saat menuruni tangga di kantornya. Waktu itu, ia merasa sangat pusing dan pandangan matanya mengabur sehingga tubuhnya mendadak ambruk. “Untung saat itu ada teman yang menolong. Tekanan darah saya diukur dan hasilnya sangat tinggi, 180/120. Sejak itulah saya tahu menderita hipertensi,” ujar Guntur. Gaya hidup Guntur memang tak sehat. Ayah dua anak itu gemar mengonsumsi makanan berlemak, seperti sate kambing dan gorengan, serta sering bergadang hingga larut malam. Pada masa itu, Guntur juga perokok berat. Dalam sehari, dia minimal menghabiskan tiga bungkus rokok. “Kalau pas bergadang, bisa lebih dari tiga bungkus,” kata pria yang memiliki tinggi badan 165 sentimeter dan berat 82 kilogram itu. Guntur mengubah gaya hidupnya secara drastis setelah merasakan dampak buruk tekanan darah tinggi. Dia berhenti merokok, tidak lagi begadang, menghindari makanan berlemak, serta lebih banyak makan sayur dan buah. Ia juga mencoba olahraga rutin dan istirahat cukup. Penanggung jawab Program Penyakit Tidak Menular di Puskesmas Seyegan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Sunoto, mengatakan, sejak tahun 2014, dia turun ke desa-desa di Kecamatan Seyegan untuk membentuk pos pembinaan terpadu penyakit tidak menular (posbindu PTM). Posbindu PTM merupakan program yang digagas Kementerian Kesehatan untuk mengendalikan sejumlah penyakit tak menular. Konsep program itu mirip dengan pos pelayanan terpadu (posyandu), tetapi jangkauannya lebih luas, yakni warga berusia 15 tahun ke atas. Dengan mengikuti posbindu PTM, masyarakat diharapkan terbiasa hidup sehat sehingga terhindar dari penyakit tidak menular. Sunoto menjelaskan, posbindu PTM dijalankan oleh warga yang telah dilatih sebagai kader, dibantu petugas kesehatan dari puskesmas. Setiap posbindu PTM di Seyegan rata-rata menggelar pertemuan sebulan sekali. Dalam setiap pertemuan, ada beberapa kegiatan yang bisa diikuti masyarakat, yakni konsultasi kebiasaan dan gaya hidup untuk mengetahui apakah ada faktor risiko yang bisa menyebabkan penyakit tak menular. Ada juga pengukuran berat tubuh, tinggi badan, lingkar perut, dan tekanan darah. Masyarakat juga bisa mengikuti pemeriksaan gula darah, kolesterol, dan senam bersama. Semua data posbindu PTM itu akan dimasukkan ke dalam aplikasi yang telah disiapkan agar bisa diakses secara daring oleh pemerintah pusat. Direktur Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan, Ekowati Rahajeng mengatakan, data surveilans dari posbindu PTM sangat berguna dalam melakukan intervensi pengendalian penyakit tidak menular.(*)

Baca Juga :  5 Bahaya Buah Lemon Untuk Perawatan Kulit Wajah