Minyak Indonesia Diambang Kritis

Faisal-Basri

 JAKARTA, TODAY—Produksi minyak Indonesia terus menu­run. Pada 2025 nanti atau 10 tahun lagi produksi minyak Indonesia diperkirakan hanya bisa mencapai 400.000 barel per hari.

“Produksi minyak kita itu terus berkurang, reserve to production ratio sudah ting­gal 11,6 tahun lagi,” kata man­tan Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Minyak dan Gas Bumi, Faisal Basri di acara diskusi media dengan tema ‘Revisi Undang-Undang Migas dan Upaya Reformasi Tata Kelola Migas Indonesia’ di Kemente­rian ESDM, Selasa (26/5/2015).

Faisal mengatakan, se­mentara setiap penemuan cadangan minyak sudah ja­rang sekali. Kalau ketemu cadangan baru pun jumlahnya relatif kecil.

“Tahun 2025 kita lihat, produk­si minyak kita tinggal 400.000-an barel per hari, sementara konsum­si BBM nasional kita mencapai 1,9 juta barel per hari, ini konsumsi terus menganga semakin besar,” ungkapnya.

BACA JUGA :  HARUSNYA ORANG INDONESIA PERILAKUNYA SESUAI DENGAN SILA-SILA YANG ADA DI PANCASILA

Faisal mengungkapkan, Indo­nesia masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki tata kelola minyak dan gas bumi. Jangan sam­pai Indonesia seperti Brasil yang tata kelola migasnya hancur le­bur karena dijarah para politikus. “Brasil sedemikian hancur leb­urnya, seperti Petrobras (BUMN energi) karena penjarahan poli­tisi,” katanya.

Ia menambahkan, yang utama saat ini harus diselesaikan pemer­intah adalah menyelesaikan ran­cangan undang-undang minyak dan gas bumi yang belum kunjung selesai. Ia berharap umur undang-undang baru tersebut nantinya bisa lebih lama, tidak hanya 5-10 tahun harus direvisi.

“Selama saya melakoni (sek­tor migas) sudah ada 4 perubahan undang-undang migas. Undang-undang migas nanti harus men­empatkan migas sebagai ujung tombak industrilisasi, migas tidak lagi dikeruk habis-habisan tetapi dijadikan untuk generasi men­datang, dan migas sebagai sumber bancakan pemburu rente (mafia migas) menjadi migas untuk rakyat banyak,” tutup Faisal.

BACA JUGA :  Kebiasaan Begadang Bisa Ganggu Tumbuh Kembang Anak, Orang Tua Diminta Lebih Waspada

Faisal juga mengkritik lang­kah PT Pertamina (Persero), yang membeli kilang minyak di Malay­sia. “Untuk memenuhi kebutu­han BBM memang perlu bangun kilang. Tapi jangan sampai kilang­nya stand alone, tidak terintegrasi dengan industri petrokimia,” kata dia.

Ia mengatakan, lokasi ter­baik membangun kilang minyak di Indonesia saat ini hanya ada dua, yakni di Bontang, Kaliman­tan Timur, dan di dekat kilang PT Trans Pacific Petrochemical Indot­ama (TPPI) Tuban, Jawa Timur.

Namun, menurut Faisal, den­gan kondisi Indonesia seperti saat ini, yang memiliki cadangan oper­asional BBM hanya cukup 18 hari, kebutuhan storage (tangki BBM) lebih penting daripada kilang minyak. “Storage lebih penting dibanding kilang,” tutupnya.

(Yuska Apitya Aji)

Bagi Halaman

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================