Untitled-14

PENCEMARAN minyak mentah akibat kebocoran fasilitas bongkar muat crude oil Single Point Mooring (SPM) terletak sekitar 16 mil laut terjadi di sebelah selatan pantai Cilacap, Jawa Tengah. Hingga kini minyak masih menggenangi laut sekitar.

Oleh : YUSKA APITYA

General Affair PT Pertamina Refinery Unit (RU) IV Cilacap, Eko Hernanto menyatakan, pihaknya masih berupaya mengatasi masalah ini. “Penanggulangan dilakukan dengan membersihkan minyak hingga ke area tepi pantai,” kata Eko Hernanto, Senin (25/5/2015). Kendati sekilas terlihat tumpahan minyak sangat banyak, namun Eko menyatakan pihaknya memprediksi tumpahan minyak yang tercecer di laut hanya sekitar 80 liter lagi. “Sampai sekarang kami memprediksi hanya 80 liter minyak mentah yang masih terapung. Total yang keluar mencapai 14 ribu liter, 13 ribu liter lebih sudah disedot,” jelasnya. Akibat kejadian ini, pihak Pertamina RU IV Cilacap terus melakukan upaya pembersihan minyak mentah tersebut dengan pemberian oil dispersant. “Upaya yang dilakukan adalah dengan pemasangan oil spill boom untuk melokalisasi ceceran minyak, pemberian oil dispersant, dan perbaikan sambungan pipa karet oleh tim penyelam,” ujarnya. Akibat tumpahan minyak mentah di pantai Teluk Penyu, Cilacap, Jawa Tengah, nelayan di pantai tersebut tidak melaut. Mereka memilih mencari mimyak mentah yang terapung di perairan Cilacap. “Percuma cari ikan susah, ikannya pada mati, jadi tidak ada nelayan yang melaut, mending cari minyak,” kata Agung, salah satu nelayan pantai teluk penyu, Cilacap, Senin (25/5/2015). Menurut dia, tumpahan minyak mentah di tengah laut terlihat sangat tebal. Bahkan masih terlihat kebocoran minyak di Single Point Mooring Pertamina Refinery Unit (RU) IV Cilacap yang merupakan tempat bongkat muat minyak mentah di tengah laut. “Tadi di tengah itu saya lihat ada yang bocor dari pipa bawah laut yang buat naikin ke kapal. Di sana minyaknya itu mumbul-mumbul dari bawah laut,” jelasnya. Dia mengatakan, jika minyak yang menuju ke pantai Teluk Penyu sudah sejak Minggu (24/5) kemarin, tapi baru terlihat tebal sejak tadi malam. Saat ini warga ,masih terus mengambil minyak yang tumpah itu. Mereka membawa ember dan wadah penampungan benca cair lainnya. Rencananya minyak itu akan dijual kepada penampung. Tumpahan minyak mentah di sepanjang Pantai Teluk Penyu membuat membuat nelayan tidak melaut karena ikan-ikan mati. Mereka berencana meminta ganti rugi kepada PT Pertamina. Rencana permintaan ganti rugi itu disampaikan para nelayan, terutama yang bermukim di sekitar Pantai Teluk Penyu, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Sejak terjadinya kebocoran pipa di Single Point Mooring (SPM) PT Pertamina Refinery Unit (RU) IV Cilacap, pencemaran laut terjadi. Ikan-ikan mati di lokasi, sementara di kawasan sekitar ikan juga susah dicari. “Kami berencana mengajukan ganti rugi ke Pertamina,” kata Pelaksana tugas (Plt) Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Cilacap, Indon Cahyono, Senin (25/5/2015). Disebutkan Cahyono, ganti rugi yang akan diajukan para nelayan itu sebesar Rp 100 ribu per hari, selama dua pekan. Sementara nelayan yang harus diberi ganti rugi di Cilacap karena kasus ini, jumlahnya mencapai 17 ribu. HNSI juga meminta kepada Pertamina untuk segera melakukan pembersihan minyak mentah di perairan Cilacap. “Secepatnya saja Pertamina melakukan pembersihan. Sehingga nelayan bisa secepatnya kembali beraktivitas melaut seperti sebelumnya,” jelasnya. Dari informasi yang didapat Indon, nelayan di Cilacap menemukan adanya ikan yang tercemar minyak mentah. “Tadi kami mendapat laporan di Pantai Adipala, nelayan yang mencari ikan di area pantai menjaring ikan mati yang berlumuran minyak,” jelasnya. Sementara Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Cilacap Adjar Mugiono mengatakan, pihak Pertamina harus segera melakukan pembersihkan ceceran minyak yang mencemari perairan selatan Cilacap. Kalau tidak secepatnya melakukan pembersihan ceceran minyak, maka akan berdampak buruk pada lingkungan. “Jika waktu pembersihan lama, maka akan mematikan biota laut. Karena itu, memang harus secepatnya dibersihkan,” katanya.

Baca Juga :  Tindakan Represif Aparat Kepolisian Menambah Daftar Kekerasan, YLBHI : 2019 Sebanyak 68 Kasus

(/net)