Untitled-12Mahasiswa dan kaula muda bisa dibilang sebagai generasi kreatif yang selalu menelurkan ide-ide ‘gila’ dalam segala hal, termasuk dalam mendirikan sebuah bisnis. Namun sayangnya, tidak semua mahasiswa memiliki cukup modal untuk mendukung usahanya. Permasalahan regulasi, agunan, dan keterbatasan mengakses perbankan menjadi masalah pokok. Permasalahan tersebut dibahas dalam diskusi bertema ‘Atmosfer Permodalan di Kota Bogor’ di sela pelantikan pengurus Himpunan Pengusaha Muda Indonesia Perguruan Tinggi (HIPMI PT).

Oleh : Apriyadi Hidayat
[email protected]

Industri-industri kreatif terus bermuncu­lan di kota hujan ini. Sektor bisnis mu­lai dari fashion hingga kuliner, banyak didirikan oleh mereka yang masih ber­status sebagai mahasiswa.

Ketua Umum HIPMI PT Kota Bogor, Haid­har Wurjanto, mengungkapkan bahwa ke­beradaan mahasiswa sebagai wirausahawan sejatinya turut mendorong jumlah pengusaha di Tanah Air. “Indonesia baru memiliki 1,5 persen pengusaha dari total jumlah penduduk. Sementara untuk mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia butuh dua persen pengusa­ha, yakni sekira 1,25 juta penduduk,” ungkap Haidhar kepada BOGOR TODAY usai pelanti­kan pengurus HIPMI PT.

Pria pemilik cafe Momomilk yang baru lulus dari Intitut Pertanian Bogor (IPB) ini me­nambahkan, bahwa minat ma­hasiswa untuk menjadi pengu­saha sangat antusias. Namun, kebanyakan dari mereka masih mengeluhkan modal.

“Mereka sudah punya ke­inginan, punya ide tapi masih terganjal modal. Para maha­siswa masih mengeluhkan su­litnya mengakses perbankan dengan syarat usahanya harus sudah berjalan dua tahun dulu dan harus ada agunan. Sedangkan kami yang mau start up, belum punya apa-apa. Kami cuma punya ide. Minimal kasih kami peluang,” jelasnya.

Selain perbankan, lanjut Haidhar, bagi mereka yang ingin memulai usaha bisa me­nyiapkan proposal untuk di­layangkan kepada para calon investor. “Celakanya mereka yang sudah menggebu untuk berwirausaha tapi tak kunjung mendapatkan modal, mereka terjebak dengan rentenir yang bisa dengan mudah mengucur­kan dana tanpa syarat berbelit. Hanya saja dengan bunga yang dipatok sangat tinggi. Ini ba­haya juga. Kan, kalau kita buka keran peluang lain dalam per­modalan jadi lebih bagus untuk mengembangkan usaha,” kata dia.

HIPMI PT Kota Bogor sendiri beranggotakan 200 orang mahasiswa. Sebanyak 30 persen dari jumlah ang­gota tersebut sudah memiliki usaha sendiri. “Paling mudah menjadi pengusaha adalah ketika kita berada di lingkun­gan pengusaha. Kalau benar-benar jiwanya pengusaha mereka akan terpacu untuk menjadi pengusaha. Kita su­dah siapkan blue print untuk menstimulus mahasiswa yang ingin memulai usaha. Untuk bergabung dengan HIPMI PT tidak harus memiliki usaha dulu. Justru di wadah ini akan belajar banyak dalam memu­lai dan menjalankan usaha,” terangnya.

Sementara itu, Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) BPC Kota Bogor, Muzakkir, berharap dengan dilantiknya pengu­rus HIPMI PT yang mengako­modir pengusaha dikalangan mahasiswa, bisa tumbuh pen­gusaha-pengusaha baru yang nantinya bisa ikut menjadi penekan angka pengangguran di Kota Bogor.

“HIPMI PT ini cikal bakal anggota HIPMI. Program HIPMI bersinergi dengan pemerintah, perguruan tinggi, perbankan dan lembaga terkait lainnya harus segera dijalankan untuk menunjuang aktivitas ini agar kelak banyak lulusan perguru­an tinggi yang menjadi pengu­saha,” pungkasnya.

(Apriyadi Hidayat)