BOGOR TODAY – Menyambut bulan suci Ramadhan 1436 H, Dompet Peduli Ummat Daarut Tauhiid (DPUDT) Bogor menggelar acara tahrib ramadhan di masjid Ar Rah­man, Kelurahan Tegalgundil, Kecamatan Bogor Utara, Kota Bogor, yang dipadati oleh ratusan jamaah dari berbagai penjuru Kota Bogor.

Acara juga dibalut dengan helatan donor dara dan diisi dengan ceramah Mamah Dedeh. Ribuan jamaah dari berbagai dae­rah penjuru Kota Bogorpun tumpah ruah mendatangi masji Ar Rahman. Dalam kesempatan nya Mamah De­deh dan Dadang Holiyulloh menyampaikan, pentingnya berpuasa dan bagaiman mencegah sesuatu yang menghilagnkan pahala puasa.

“Khususnya dalam berpuasa minimal kita tidak makan, minum, tidak cam­pur pada siang, dan intinya seluruh tubuh ikut berpuasa. Mata idung, telinga dan mulut harus berpuasa tapi terkadang kita mulut puasa, mata kita tidak. Contohnya bapak-bapak ngeliat di becak ada yang ngangkang diliatin terus,” kata Mamah saat ceramah di hadapan ratusan jamaah.

Baca Juga :  Perkumpulan Gagas Nusantara Gelar Diskusi Polemik Kenaikan BBM

Mamah menyam­paikan, salah satu yang menghilangkan pahala saat ramadhan contohnya terka­dang ada tetangga yang lewat memang tidak senang dis­enangi, dicibirlah tetangga itu. “Untuk itu ada lima yang membatalkan pahala puasa. Seperti yang lainnya adalah berbicara bohong, membic­arakan orang lain dan orang yang ngomongin orang itu kemasukan setan. Ngapain ngomongin orang lihat dulu diri sendiri,” kata Mamah.

Sebaliknya menurut Mamah Dedeh, baiknya harus berbagi dengan tetangga apabila mempunyai makanan yang lebih, dibulan ramad­han harus banyak berbagi. “Dibulan suci harus lebih ser­ing berbagi dengan tetangga di bulan suci. Jangan malah mengurangi pahala puasa,” tegasnya kepada jamaah.

Baca Juga :  RAJINLAH JALAN KAKI SUPAYA SEHAT

Sementara itu Kepala DPUDT Bogor, Fata Fauzi menyampaikan untuk acara ini diadakan DPU DT untuk menyambut ramadhan, Ust. Dadang menyampaikan pentingnya menjaga puasa. Puasa harus menjaga diri dari sesuatu yang membatalkan minum dan makan, akan tetapi juga harus menjaga hati dan menjaga lisan. “Puasanya sah tapi pahalanya kosong, dengan adanya perbuatan yang menghilangkan pahala puasa. Jadi terkadang hanya menahan makan dan minum saja. Kan tetapi ada perbua­tan pandangan yang meren­dahkan orang lain, lisan yang menyakitkan orang lain. Puasa sah tapi pahalanya tidak ada,” ujarnya.

Guntur Eko W)