Untitled-11JAKARTA, TODAY — Presiden Joko Widodo memerintahkan kepada jajaran menteri Kabinet Kerja yang dipimpinnya untuk membuat lapo­ran kinerja sepanjang 1 semester terakhir. Laporan menteri itu nanti­nya akan dijadikan bahan evaluasi.

Sekretaris Kabinet Andi Wi­djajanto mengatakan, mulai Rabu malam hingga Kamis (18/6/2015) para menteri harus sudah meng­umpulkan laporan yang diminta presiden itu. Jokowi meminta lapo­ran 1 semester itu dibuat seringkas mungkin, tidak lebih dari dua lembar.

“Mulai malam ini dan besok pagi (hari ini, Red) muncul laporannya,” kata Andi di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Rabu (17/6/2015).

Andi mengatakan, Presiden Jokowi hanya me m e r i n ­tahkan menterinya untuk membuat lapo­ran kinerjanya selama 1 semester belakangan. “Laporan dan peren­canaan sampai November 2015. Itu saja perintah Presiden,” kata Andi.

Andi tak bisa merinci untuk apa keperluan lapo­ran tersebut oleh Presiden Jokowi. Dia juga tak bisa memastikan laporan itu nantinya akan digunakan sebagai bahan untuk perombakan kabinet. Na­mun laporan itu dijadikan Presiden se­bagai bahan untuk evaluasi. “Ya akan dipakai oleh Presiden untuk evalu­asi, kepentingan evaluasinya apa? Lalu presiden yang menentukan,” kata Andi.

Baca Juga :  338 Kasus PMK di Banjarnegara, Petugas Kesehatan Jemput Bola Lakukan Vaksinasi

Para pengamat menilai, laporan kerja para menteri ini akan dijadikan dasar Presiden Jokowi untuk melaku­kan reshuffle kabinet. “Sinyal reshuffle semakin kuat seiring Jokowi meminta para menterinya menyerahkan laporan. Ini langkah positif untuk mementahkan dugaan pergantian menteri karena fak­tor tekanan politik. Bila ada menteri yang diganti pun akan terlihat alasan­nya profesional karena dilihat dari lapo­ran kerjanya,” kata pengamat politik Universitas Paramadina, Hendri Satrio, kepada wartawan.

Laporan kerja menteri inilah yang bakal dilihat Jokowi. Bagaimana seorang menteri memaparkan program apa saja yang sudah dilakukan selama enam bulan ini dinilai jadi ukuran pe­nilaian Jokowi sebelum melakukan pe­nyegaran kabinet. “Laporan kerja ini bisa jadi kartu mati bagi menteri yang minim prestasi, sehingga tidak mampu membuat program kerja yang nyata,” katanya.

Jokowi diharapkan memberikan pe­nilaian secara objektif. Terutama dalam melakukan penilaian terhadap menteri yang benar-benar memiliki program unggulan dan yang hanya pencitraan.

“Tapi Presiden juga harus arif dalam menilai laporan, Presiden harus buka mata, banyak mendengar dan mera­sakan, banyak menteri Jokowi yang dipilih karena jago pencitraan, sehing­ga polesan laporan pun akan terlihat ciamik, cantik, dan terkesan berkerin­gat,” pungkasnya.

Baca Juga :  Zodiak Cancer pada Minggu Ini

Bagaimana tanggapan para men­teri? Menteri Agraria dan Tata Ruang Ferry Mursyidan Baldan mengatakan, kinerja menteri memang harus selalu dilaporkan kepada Presiden, baik ada atau tidak Reshuffle kabinet. “Ada atau nggak ada reshuffle, (menteri) wajib laporkan. Kita harus laporkan program rutin. Biasa-biasa saja,” kata Ferry di Gedung Kementerian Lingkungan Hid­up dan Kehutanan, Jakarta Pusat, Rabu (17/5/2015).

Politikus yang Selasa (16/6/2015) ke­marin genap berusia 52 tahun itu men­gaku selalu melaporkan kinerja dan semua program di Kementerian Agraria dan Tata Ruang.

“ Lho kami bantu Presiden. Misalnya ketersediaan lahan, maksud saya, kami sebagai pembantunya untuk menyiap­kan. Satu hari pun harus ada. Kami kan buat perencanaan, kami kan merecord dan bisa 24 jam melaporkan,” kata dia.

Sayang ketika diminta pendapat soal kinerja Kementerian Agraria dan Tata Ruang, Ferry enggan menjawab. Dia meminta pihak di luar kementerian yang memberikan penilaian. “Ya jangan saya yang menilai. Nanti saya narsis. Biar publik yang menilai,” pungkas­nya.

(Alfian M|dtc)