Piala Presiden Perberat Sanksi FIFA

689601_12535422052015_dali-tahirBANDUNG, Today – Mantan Anggota Komite Etik FIFA, Dali Tahir meragukan kompetisi yang digagas tim transisi bisa berjalan lancar.

Sebab, yang memiliki perangkat per­tandingan sejauh ini adalah PSSI, se­mentara PSSI sendiri tengah dibekukan oleh Kemenpora.

Dia menyampaikan, jika sampai meng­gunakan perangkat pertandingan milik PSSI, bisa jadi sepak bola nasional makin terpuruk. Sebab, semakin memperberat pula sanksi yang diberikan oleh FIFA.

Diketahui, indikasi FIFA memberi­kan hukuman kepada PSSI, sebab terla­lu banyak dicampuri pihak pemerintah.

“Wasitnya siapa? inspektur pertand­ingan, komisi disiplin, komisi banding itu dari mana?, kalau digunakan per­angkat PSSI, PSSI-nya kena lagi nanti dari FIFA, karena dilarang,” tuturnya di Desa Ciluluk, Tanjungsari, Kabupaten Sumedang, Rabu (17/6/2015).

BACA JUGA :  Kontingen Pelajar Kota Bogor Rajai POPWILDA I Jawa Barat

Rencananya tim transisi bakal mengge­lar Piala Presiden, 2 Agustus mendatang. Dali pun khawatir dengan statemen yang telah dikeluarkan oleh tim transisi.

Menurut dia tim bentukan kemenpora tersebut bakal menjaring kepersertaan­nya lewat cara mengundang setiap klub terlebih dulu. Padahal dia katakan, tidak sewajarnya proses seperti itu diberlakukan.

“Ini agak aneh, kompetisi ini sifat­nya berjenjang dari mulai junior, amatir sampai profesional, dari dulu juga eng­gak pernah lewat undangan,” ulasnya.

Mudahnya, dia katakan FIFA bisa menarik sanksinya jika Menpora kem­bali mengaktifkan PSSI dan membubar­kan tim transisi.

“Lihat sejarah, negara yang pernah kena suspend tidak ada yang mbalelo, semua patuh. Ambil contoh Kamerun, Yaman dan Brunei. Gak ada yang men­coba mengubah statuta FIFA. FIFA itu adalah organisasi sangat rapat, karena untuk masuk Piala Dunia ada aturan­nya,” sambung dia.

BACA JUGA :  Bupati Bogor Cup 2026 Jadi Wadah Pemersatu dan Perekat Kekompakan Wartawan Kota dan Kabupaten

“Dan kita harus ingat mungkin ini baru sebulan disanksi tapi akibatnya pada kemunduran sepak bola itu berta­hun-tahun,” imbuhnya.

Menurut dia, idealnya Pemuda dan Olahraga itu tidak bisa disatukan.

“Pemerintah harusnya lebih concern ke sarana penunjang. Sejauh ini hanya Senayan stadion yang bertaraf inter­nasional. Yang ada nomor kursinya, makanya Piala Asia kemarin mainnya di Senayan,” beber dia.

(Imam/net)

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================