689601_12535422052015_dali-tahirBANDUNG, Today – Mantan Anggota Komite Etik FIFA, Dali Tahir meragukan kompetisi yang digagas tim transisi bisa berjalan lancar.

Sebab, yang memiliki perangkat per­tandingan sejauh ini adalah PSSI, se­mentara PSSI sendiri tengah dibekukan oleh Kemenpora.

Dia menyampaikan, jika sampai meng­gunakan perangkat pertandingan milik PSSI, bisa jadi sepak bola nasional makin terpuruk. Sebab, semakin memperberat pula sanksi yang diberikan oleh FIFA.

Diketahui, indikasi FIFA memberi­kan hukuman kepada PSSI, sebab terla­lu banyak dicampuri pihak pemerintah.

“Wasitnya siapa? inspektur pertand­ingan, komisi disiplin, komisi banding itu dari mana?, kalau digunakan per­angkat PSSI, PSSI-nya kena lagi nanti dari FIFA, karena dilarang,” tuturnya di Desa Ciluluk, Tanjungsari, Kabupaten Sumedang, Rabu (17/6/2015).

Baca Juga :  Presiden Jokowi Siapkan Bonus 309 Miliar Bagi Atlet Beprestasi di Asean Para Games 2022

Rencananya tim transisi bakal mengge­lar Piala Presiden, 2 Agustus mendatang. Dali pun khawatir dengan statemen yang telah dikeluarkan oleh tim transisi.

Menurut dia tim bentukan kemenpora tersebut bakal menjaring kepersertaan­nya lewat cara mengundang setiap klub terlebih dulu. Padahal dia katakan, tidak sewajarnya proses seperti itu diberlakukan.

“Ini agak aneh, kompetisi ini sifat­nya berjenjang dari mulai junior, amatir sampai profesional, dari dulu juga eng­gak pernah lewat undangan,” ulasnya.

Mudahnya, dia katakan FIFA bisa menarik sanksinya jika Menpora kem­bali mengaktifkan PSSI dan membubar­kan tim transisi.

“Lihat sejarah, negara yang pernah kena suspend tidak ada yang mbalelo, semua patuh. Ambil contoh Kamerun, Yaman dan Brunei. Gak ada yang men­coba mengubah statuta FIFA. FIFA itu adalah organisasi sangat rapat, karena untuk masuk Piala Dunia ada aturan­nya,” sambung dia.

Baca Juga :  Aksi Manuever Atlet Penerjun Payung Cup 2022

“Dan kita harus ingat mungkin ini baru sebulan disanksi tapi akibatnya pada kemunduran sepak bola itu berta­hun-tahun,” imbuhnya.

Menurut dia, idealnya Pemuda dan Olahraga itu tidak bisa disatukan.

“Pemerintah harusnya lebih concern ke sarana penunjang. Sejauh ini hanya Senayan stadion yang bertaraf inter­nasional. Yang ada nomor kursinya, makanya Piala Asia kemarin mainnya di Senayan,” beber dia.

(Imam/net)