Foto-HLSAYA mendengar kabar kurang sedap saat berada di kota tetangga Bogor, Cianjur. Seperti geledek di siang bolong. Kabar kurang sedap itu
terkait dengan pemilihan Ketua Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kota Bogor yang baru-baru ini memutuskan, Ace Sumanta yang sebelumnya
menjabat sebagai Ketua Komite Bidang Sastra Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kota bogor, sebagai ketua.

Oleh : DONY P. HERWANTO
[email protected]

Saya memang tidak hadir. Selain ti­dak dapat undangan, kebetulan saya sedang ada tugas kantor. Tetapi, in­formasi suasana pemilihan ketua, saya terus up date. Siapa saja yang datang, saya juga tahu. Atas nama sanggar apa atau lembaga apa, nah ini yang tidak saya tahu. Pun dengan kawan saya yang selalu up date peristiwa demi peristiwanya itu kepada saya.

Tulisan ini tidak sedang saya maksudkan untuk mendeskriditkan seseorang – kalau boleh saya sebut nama Ace Sumanta – tetapi, lebih menitikberatkan kepada mekanisme pemilihan yang terkesan sembrono dan asal-asalan. Maafkan saya jika ada pihak yang tersinggung. Banyak prosedur yang seha­rusnya menjadi mekanisme dalam setiap musyawarah kerja yang dilanjutkan dengan pemilihan ketua, tidak dijalankan.

Saya masih ingat. Dulu saat masih men­jadi mahasiswa, urutan atau tata tertib musyawarahtidak bisa dilompati sekehen­dak hati dengan alasan apapun. Tata tertib seperti kitab suci. Harus dan wajib ditaati. Satu per satu pokok bahasan didiskusikan atau diforumkan. Bahkan, tak jarang, pem­bahasan satu urutan musyawarah kerja bisa memakan waktu berjam-jam.

Urutannya biasanya dimulai dengan pembahasan tata tertib peserta musyawarah, agenda acara, AD/ART, GBHK, pembacaan laporan pertanggungjawaban, kemudian visi misi calon ketua dan diakhiri dengan pemili­han ketua. Koreksi saya kalau ada yang terle­wat, bahkan salah.

Nah, hal-hal di atas itu – kata kawan saya yang ikut dari awal sampai bubar dan memi­liki suara sah – tidak dijalankan. Padahal di agenda acara itu tertulis semua. Inikan aneh bin ajaib. Ada persoalan mendesak apa se­hingga membuat agenda acara yang telah disusun sedemikian rupa itu dilewati begitu saja? Atau jangan-jangan, ada oknum yang sengaja membuat demikian? Hanya Allah dan oknum itu sendiri yang tahu.

Baca Juga :  Makanan Alternatif Protein Pengganti Telur, Lebih Bergizi

Yang terlewat atau sengaja dilewati adalah, tidak adanya pembahasan AD/ART dan pembacaan LPJ pengurus lama yang saat itu dipimpim Sambas Bratasandjaja. Padahal itu urgent bin penting. AD/ART itu urat nadi organisasi. LPJ adalah cermin bagi pengurus yang akan datang. Nah, kita bisa bayangkan jika dua hal penting itu tidak ada dalam pesta musyawarah kerja Dewan Keseniandan Kebudayaan Kota Bogor. Ada apa ini?

Yang terjadi, musyawarah kerja dewan itu tak lebih dari proses pemilihan Ketua RT. Ah, amat sangat disayangkan. Organisasi besaryang akan menjadi mitra pemerintah dan payung seniman budayawan dipilih me­lalui mekanisme yang sangat tidak laik.

Bukan lantaran Ace Sumanta yang ter­pilih, lantas tulisan ini ada. Bukan. Jika Ace Sumanta terpilih sebagai ketua melalui me­kanisme yang benar dan sesuai, saya akan ucapkan selamat – sejauh ini, sampai tulisan ini diturunkan, saya belum mengucapkan selamat kepada Ace Sumanta. Maafkan saya – ini yang terjadi malah sebaliknya. Bahkan saya membaca surat pembaca yang terbit di koran ini, ada nada kekecewaan dan protes keras terhadap proses pemilihan. Pun saya saat membacanya.

Surat pembaca tersebut datang dari kawan di Dipokersen yang juga menjadi peserta sah musyawarah kerja. Peserta yang datang, masih berdasar surat pembaca itu, kedudukannya tidak jelas. Bahkan, tak ban­yak peserta yang dia kenal, tetapi memiliki suara. Cukup dengan lisan sah tidaknya kepesertaan. Ada apa ini?

Saat surat pembaca itu ada di koran ini, saya langsung menghubungi kawan Dipokersenitu. Kami sempat berbincang lama melalui media sosial. Jarak dan peker­jaanlah yang pada akhirnya memaksa kami berkomunikasi melalui media sosial. Ini tak jadi soal.

Begini nada kesal kawan saya itu: Pemili­han Dewan Kesenian dan kebudayaan Kota Bo­gor tadi pagi (saat pemilihan) di gedung rapat paripurna DPRD, cacat prosedural bahkan ca­cat hukum dan penting untuk diulang karenabelum bisa dikatakan merepresentasikan kelompokseniman Kota Bogor, bahkan justrubanyak yang nggak jelas yang dimobilisasisecaramasif dan sistemik.

Yang saya beri font italic dan bold adalah hal penting lainnya dari ontran-ontranpemilihanketua dewan kesenian dan kebudayaanKota Bogor. Saya pikir, ada ok­num yang sengaja berbuat demikian untuk memuluskan langkahnya menduduki kursi ketua dewan kesenian dan kebudayaan Kota Bogor. Siapakah dia?

Baca Juga :  Sedang Berboncengan, Pasutri di Banjarmasin Tertimpa Pohon Tumbang

Mekanisme dan sistem yang tepat akan membawa organisasi berada di jalur yang benar. Jika sistem dan mekanisme yang di­tempuh salah, maka salahlah arah organisasi itu. Bahayanya, jika proses pemilihan seperti ini menjadi budaya dan kebiasaan. Bukan ti­dak mungkin, bukan?

Nah, untuk menghindari pemilihan yang asal-asalan seperti itu, mari kita benahi me­kanismenya. Mulailah serius mengurus kes­enian dan kebudayaan. Oh iya hampir lupa, saya juga berkomunikasi dengan mantan pengurus dewan kesenian dan kebudayaan Kota Bogor yang juga PNS di lingkungan Di­nas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bogor, Uci Sanusi, berikut hasil obrolan kami me­lalui media sosial:

Itu sudah berjalan, yang duduk di sc dan oc juga teman-teman dari yang ada di markas Dewan kesenian. Menurut hemat saya berilah kesempatan pada dia (Ace Sumanta) sekarang dan pengurus lainnya, nanti kita aping dan arahkan. Karena kalau kita berkutat di antara setuju dan tidak setuju si a atau si b jadi ketua dewan kenyataannya ketika itu dibuka dan ditawarkan, ternyata susah mencari orang yang siap untuk jadi calon. Dan tiga orang calon itulah yang mau dicalonkaan dan men­calonkan jadi ketua. Nggak akan maju-maju, nggak akan bergeraak. Nah sekarang tinggal hayu semua sama-sama bareng tuk memaju­kan DK3B.

Saya menangkap ada sesuatu yang dipak­sakan dan dibiarkan dari kalimat Uci Sanusi di atas. Atau bahkan ada yang disembunyikan? Bukan masalah siapa yang menjadi ketua. Sekali lagi, bukan masalah itu. Tetapi me­kanismenya yang saya persoalkan.

Lagi-lagi, hanya Uci Sanusi dan Allah yang tahu. Pertanyaan saya, jikalau ada pe­milihan ulang dengan jaminan mekanisme dan sistemnya berjalan dengan baik, apakahmasih bisa? dengan catatan sekali lagi, veri­fikasi kepesertaan dan lain-lain berjalan denganbaik.

Terakhir, dari lubuk hati yang terdalam, saya meminta maaf jika ada pihak-pihak yang kurang berkenan. Selamat menunaikan ibadahpuasa. Namaste.

Untitled-1

Dony P. Herwanto: Pegiat Ruang 8
Art Movement, tinggal di Bogor