Berita-2BOGOR, Today – Mendeklara­sikan diri sebagai kota produ­sen atlet membawa konsekue­nsi lebih untuk memberikan perhatian penuh terhadap proses pembinaan atlet sejak usia dini. Serta perhatian me­nyeluruh kepada cabang olah­raga (cabor).

Hal tersebut diungkapkan oleh Ketua Umum Persatuan Drum Band Indonesia (PDBI) Jawa Barat, Gatut Susanta. Dirinya melihat Kota Bogor memiliki talenta-talenta muda potensial, jika dipoles dengan benar akan menjadi atlet ber­sinar di masa depan.

“Disini perlu sinergitas yang baik antara Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor, Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kota Bogor dan para Ketua Pengurus Cabang (Peng­cab) Cabang Olahraga (Ca­bor),” katanya.

Terkhusus, dirinya memin­ta pengurus PDBI Kota Bogor terus mengembangkan potensi drum band pada setiap tahun­nya. Selain banyak diperhi­tungkan kota lain, Bogor juga kerap kali menjadi tuan rumah pada setiap kejuaraan.

Baca Juga :  IPB RUN 2022, Lari Sambil Tanam Pohon Langka

Menurut Gatut, Kota Bo­gor merupakan penghasil Bibit-bibit muda drum band di tingkat Jawa Barat. Maka sudah seharunya prestasi ini terus dijaga, dengan terus mengem­bangkan potensi yang ada.

“Dengan raihan prestasi yang kerap kali disandang Kota Bogor, maka secara otomatis banyak kota serta kabupaten lain yang memperhitungkan Bogor. Terutama di tingkat Jawa Barat,” tuturnya.

Selain itu, Bogor juga kerap kali menjadi tuan rumah pada setiap kejuaraan, ini seharus­nya menjadi peluang, untuk terus menciptakan, dan men­gangkat seluruh potensi. Na­mun Kerjasama, sinkronisasi antar sekolah juga harus mulai diperhatikan, karena masih banyak sekolah yang belum memiliki peralatan drum band.

Baca Juga :  Striker Timnas Curacao Kenji Gorre Terpikat Keindahan Kabupaten Bogor

“Bogor ini banyak menjadi tuan rumah pada event drum band, baik di tingkat daerah maupun nasional. Tentunya ini menjadi keuntungan besar untuk terus meraih prestasi dengan membina serta menge­luarkan potensi yang di rumah sendiri. Namun yang harus diperhatikan,masih banyak sekolah di Kota Bogor ini yang belum memiliki ekstrakulikul­er,” lanjutnya.

Belum banyaknya seko­lah yang memiliki ekstraku­liluler disebut Gatut menjadi masalah. “Ini jelas menjadi permasalahan serius. Yang ha­rus diperhatiakan serta di cari bagaimana jalan keluarnya, agar para bibit-bibit berbakat bisa terus belajar, dan banyak meraih prestasi di tingkat nasi­onal,” pungkasnya.

(Adilla Prasetyo Wibowo)