Untitled-6Salah satu metode pengobatan kanker yang saat ini berkembang pesat adalah pemberian kemoterapi. Tapi, benarkah kemoterapi memberi efek samping yang berat. Agar tidak tergesa-gesa memberi keputusan tindakan medis, kenali keuntungan dan kerugiannya.

Oleh : RIFKY SETIADI
Email: [email protected]

Kemoterapi telah terbukti dapat menurunkan angka kekambuhan den­gan bermakna. Dan, saat ini efek samping kemotera­pi telah dapat dikontrol dengan baik. Dengan lebih mengenal perangai cell kanker, pengob­atan menjadi lebih terarah. Saat ini kemoterapi telah memberi hasil yang lebih baik dan den­gan efek samping jauh lebih lebih terkontrol. Syaratnya, pemberian kemoterapi harus diberikan dengan tata-cara yang benar dan penuh kewas­padaan. “Manageable side ef­fect”, artinya, di tangan tim ahli yang bekerja penuh dedikasi, efek samping kemoterapi da­pat diatasi. Terpenting disini, hubungan yang optimal antara dokter, pasien dan perawat se­lama dan sesudah pemberian kemoterapi.

Tujuan kemoterapi adalah memberikan obat yang cukup untuk membunuh sel tumor tanpa menyebabkan kerusakan permanen pada sel-sel normal. Obat kemoterapi mempengaruhi semua sel-sel tumor dan juga sel-sel yang normal. Setiap orang akan bereaksi secara berbeda terhadap kemoterapi yang di­jalaninya sehingga efek samping yang dialami juga akan berbeda antara satu dengan yang lainnya.

Titik kerja kemoterapi ada­lah pada saat terjadinya pemb­elahan sel (kecuali Targeted Therapy). Sel kanker membelah lebih cepat, sehingga sel kanker terkena efek lebih besar. Tetapi sel normal yang melakukan pembelahan-pun ikut terkena. Efek samping kemoterapi tidak selalu sama, sangat individual.

Baca Juga :  Waspada! 8 Gejala Cacar Monyet

Sel-sel normal mana saja yang sering mengalami efek samping? Sel normal yang siklus pembelahannya lebih cepat akan terkena efek lebih besar. Misalnya sumsum tulang. Kemoterapi akan menurunkan bahkan menghentikan semen­tara produksi sel-sel darah. Ini dapat dilihat dari gambaran pemeriksaan darah rutin.

Efek yang mudah terkena juga pada akar rambut. Sel ram­but mempunyai pertumbuhan sel yang lebih cepat. Sehingga efek yang diterima akan lebih besar dari sel lain. Rambut rontok (alopecia) merupakan efek samping yang sering ter­jadi pada pemberian keoterapi. Mukosa pencernaan, lapisan terdalam dari usus sampai mu­lut. Efek samping ang sering dit­erima, nyeri perut, diarhoe dan sariawan.

Mual dan muntah terjadi karena terangsangnya chemore­ceptor triger zone (CTZ) diotak. Chemotherapy diterima oleh otak sebagai bahan yang mem­punyai potensi toxin dalam darah. Terjadilah efek biologi, reaksi proteksi spontan diotak yang menimbulkan rangsangan mual dan muntah. Hal ini sama seperti orang keracunan ma­kanan, secara spontan lambung berusaha mengeluarkan isinya.

Tidak semua obat akan memberi rasa mual dan mun­tah, tergantung obat yang di­berikan dan disini keadaan psikis pasien sangat berpen­garuh. Mual dan muntah um­umnya berlangsung 3-4 jam setelah pemberian kemo dan berlangsung sampai 1-2 hari.

Baca Juga :  Bahaya Kolesterol Tinggi bagi Kesehatan yang Perlu Diketahui

Terobosan besar dalam bidang anti muntah modern (antiemetic), membuat pem­berian kemoterapi berubah. Efek mual dan muntah dapat dikontrol dengan baik. Ditemu­kan beberapa obat yang efektif memblok CTZ. Obat antiemetic lama Compazine memblok do­pamine reseptor. Sampai saat ini masih dapat dipakai untuk mual dan muntah tingkat se­dang.. Obat tersedia dalam ben­tuk tablet atau suppositoria.

Obat-obat baru golongan 5HT3 antagonis, sangat efek­tif mengatasi mual & muntah pada pemberian kemoterapi. Umumnya diberikan per infus. Cara kerjanya, memblok seroto­nin reseptor di CTZ. Obat-obat jenis ini tersedia dengan nama Zofran, Kytril, Anzimer dan Aloxi. Efek samping dari obat ini, kadang kadang timbul sakit kepala dan sulit buang air besar.

Efek samping kemoterapi tidak hanya dirasakan oleh fisik tetapi juga pada masalah psikologis, sosial dan spiritual. Anda memerlukan dukungan dari orang-orang di sekitar Anda untuk memberikan semangat dan membantu meringankan masalah yang Anda alami mu­lai dari dokter, perawat hingga keluarga. Jangan ragu-ragu un­tuk mengajukan pertanyaan tentang hal yang ingin Anda ketahui atau ingin diungkapkan kepada mereka. Komunikasi yang baik dengan tim kesehatan penting sebelum mengambil keputusan. (*)