Untitled-13Para pengembang kawasan industri sedang bersiap-siap untuk menghadapi ekspansi perusahaan-perusahaan dari Jepang, Tiongkok, Korea Selatan, Amerika Serikat dan sejumlah negara lainnya. Selain wilayah barat dan timur Jakarta, Sukabumi juga dilirik investor dalam menanamkan modalnya untuk mengembangkan kawasan industri. Triliunan rupiah pun disiapkan.

Oleh : Apriyadi Hidayat
[email protected]

Analis Investa Saran Mandiri, Hans Kwee menilai memandang prospek ka­wasan industri sebenarnya cukup ba­gus karena mendapat dukungan dari pemerintah. Hanya saja, perlambatan ekonomi yang terjadi akan menahan minat investor asing untuk masuk ke dalam negeri. Namun, melihat kuartal III ekonomi akan mengalami per­baikan seiring dengan tereal­isasinya proyek infrastruktur pemerintah sehingga penjua­lan lahan industri akan mem­baik. Perkiraaannya, kinerja emiten kawasan industri akan tumbuh meskipun terbatas.

Presiden Direktur Olympic Group, Au Bintoro, mengta­kan selain memperluas pasar ekspor furniture ke berbagai negara bidikan, Ia juga menya­takan tengah fokus melakukan ekspansi pada sektor pemban­gunan kawasan industri terin­tegrasi. Sebagai pilot project, Olympic bakal menanamkan modalnya di wilayah Sukabu­mi.

“Meski kami optimistis di 2015, tapi bukan berarti tanpa kendala. Kendala pertama adalah kenaikan UMR cukup tinggi dan tidak merata, kalau merata tidak masalah. Jawa Timur sekitar Rp1 jutaan, Bo­gor dan sekitarnya Rp2 juta lebih. Makanya, Olympic akan lakukan relokasi pabrik di Ke­dung Halang ini ke wilayah Sukabumi. Di sana lahan lebih murah, tenaga kerja banyak dan juga murah. Di sini (Kota Bogor) udah tidak cocok, nilai ekonomisnya sudah tidak baik lantaran harga terlampau tinggi,” jelas Au Bintoro.

Untuk pabrik anyarnya itu, Au akan merelokasi pada 2017 mendatang. “Investasi cukup besar, nilai detailnya nanti di­infokan. Yang jelas Olympic akan menempati lahan sekitar 15 hektare di sana. Kapasitas produknya pastinya akan lebih besar dari yang di Bogor, dalam setahun kami target sekitar Rp1 triliun,” imbuhnya.

Baca Juga :  Bangun Revolusi Mental Pilah Sampah di Sekolah Kota Bogor, Mountrash Hadirkan Dropbox di Smansa

“Di Sukabumi merupakan sebuah kawasan industri baru yang sedang kami persiapkan khusus untuk sentra indus­tri furnitur. Nanti akan tarik investor dari luar juga untuk kumpul di Sukabumi. Jadi, nanti di Cikembar, Sukabumi, itu merupakan suatu kota tempat berkumpulnya pelaku bisnis furniture dari berbagai negara. Tahap pertama kami akan bangun 250 hektare,” bebernya.

Jika sukses, Sukabumi akan menjadi pilot project kawasan industri yang digagas Olympic Group. Pihaknya juga akan mel­akukan ekspansi ke daerah lain dengan membangun kawasan serupa seperti di Cirebon, Se­marang, Jepara, Bali dan Ka­limantan. “Beberapa titik ini yang akan dijadikan kawasan industri khusus furniture dan kerjainan rotan. Pilot project­nya di Sukabumi. Sedang diper­sipakan konsepnya dan akan dipresentasikan ke pemerintah setempat,” pungkasnya.

Sebelumnya, Associate Di­rector Colliers International In­donesia, Ferry Salanto menilai kawasan industri Indonesia masih menjadi lahan investasi yang menarik. Indonesia men­jadi incaran keenam untuk inv­estasi. Hal itu terlihat dari ban­yaknya modal asing yang akan masuk ke Indonesia untuk sek­tor industri.

“Indonesia menduduki per­ingkat keenam dunia untuk menanamkan investasinya. Banyak pemodal asing yang mau masuk ke Indonesia teru­tama ke kawasan industri,” kata Ferry Salanto.

Wilayah barat dan timur Ja­karta juga tampaknya sedang bersiap-siap untuk menghada­pi ekspansi perusahaan- peru­sahaan dari Jepang, Tiongkok, Korea Selatan, dan Amerika Serikat. Walaupun pelambatan perekonomian dunia sedikit mengganggu perencanaan para pengusaha dunia, na­mun diperkirakan pada tahun depan atau lebih tepatnya ta­hun 2017 perekonomian dunia bakal kembali bergeliat.

“Memang relatif. Karena, kalau kita sih jujur bilang, pe­masaran pada tahun ini cukup bagus. Sebab kita memang tidak banyak transaksi tapi kita men­dapatkan tenan besar. Seperti pada Juli mendatang kita akan transaksi dengan perusahaan otomotif asal Amerika yang bekerja sama dengan Tiongkok sebanyaak 60 hektare,” kata Stefanus Sehonanda, General Manager Sales and Mareketing PT Putradelta Lestari, pengem­bang kawasan industri terpadu Kota Deltamas milik Kelompok Usaha Sinarmas Land.

Baca Juga :  Pentingnya Miliki Asuransi Properti, Ini 3 Cara Tepat Memilihnya

Stefanus menambahkan, bagi pengembang kawasan industri yang memunyai land bank sedikit mungkin bakal ke­sulitan untuk bisa menjual 60 hektare sekaligus. “Makanya kita optimis target penjualan 100 hektare pada tahun ini bisa tercapai. Sebab, sampai perten­gahan tahun ini saja sudah tersisa 20 hektare. Jadi target tahun bisa tercapai lah,” pung­kasnya.

Mengenai harga tanah in­dustri, hasil riset Cushman & Wakefield menyebutkan lonja­kan harga tanah industri pada kuartal pertama 2015 paling tinggi tercatat di kawasan Beka­si, yakni 30,83 perseb dari 2,07 juta rupiah per m2 pada kuar­tal pertama 2014 menjadi 2,70 juta rupiah per m2 pada kuar­tal pertama 2015. Kemudian, disusul di kawasan Serang yang naik 29,54 persen, yakni dari 1,10 juta rupiah per m2 menjadi 1,42 juta rupiah per m2.

Sedangkan peningkatan harga terkecil terjadi di ka­wasan Bogor, yakni sekitar 5,88 perseb menjadi 1,8 juta rupiah per m2. Arief menjelaskan, se­cara kumulatif suplai lahan un­tuk kawasan industri pada ta­hun ini sebesar 11.000 hektare atau naik 12 persen dibanding­kan 2014 yang sebesar 10.723 hektare. Pada kuartal pertama 2015, suplai tanah industri mencapai 340 ha dan yang terjual 74,9 persen dari angka itu.Sedangkan sepanjang 2015, pasokan yang bakal masuk mencapai sekitar 500 hektare.

(Apriyadi H/KJ)