BANDUNG, Today – Usia 67 tahun memanglah tak muda lagi bagi manajer Persib Umuh Muchtar. Melewatkan bulan ramadan di usia senjanya dia banyak berdiam diri di rumah, lalu bagaimana ketika dia masih remaja.

Ketika berusia muda, Umuh senang menghabiskan waktunya den­gan bermain di sekitar kediamannya, Jalan Desa, Kiaracondong, Band­ung. Salah satu tempat favoritnya yaitu kawasan stasiun kereta api.

Kegiatan favorit Umuh di kawasan stasiun kala itu adalah mem­buat pisau dari sebuah paku. Dia menceritakan ketika muda dia sen­gaja membawa paku berukuran besar dari rumah, lalu disimpan di lintasan rel biar sengaja tergilas oleh kereta api yang tengah melintas.

Umuh juga lebih banyak menghabiskan waktu bersama teman-teman sebayanya. Saat sore menjelang, layaknya anak laki-laki ke­banyakan dia juga menyenagi sepak bola.

Baca Juga :  Jawa Barat Jadi Pemilik Tetap Piala Presiden Porwanas XIII

“Terus main bola di Lapangan Kebo, selalu main di situ,” te­gasnya.

Namun, segala kegiatan tersebut sekarang hanya tinggal kenan­gan bagi Umuh. Ditengah kesibukannya mengurusi berbagai bisnis dan kesebelasan Persib, kini dia lebih banyak menghabiskan waktu­nya di rumah, bermain bersama cucu-cucunya.

Setelah sepak bola Indonesia mati suri sebagai buntut dari jatuh­nya sanksi FIFA, Umuh kian memiliki banyak waktu luang.

Tetapi kini untuk menunggu saat berbuka puasa dia tidak lagi berkeliaran ataupun berjalan-jalan, disamping bercengkrama ber­sama cucunya, dia lebih senang bermain catur.

“Kalau sudah gini mah paling ngabuburit jarang pergi jauh, sama cucu main paling. Paling kalau sama pembantu itu main catur nung­gu magrib,” terangnya.

Baca Juga :  Berikut Tim Negara Yang Lolos Babak 16 Besar Piala Dunia

Sementara itu, makanan spesial bagi Umuh di bulan ramadan ini rupanya adalah sayur kacang merah. Baik itu saat berbuka ataupun makan sahur, menu favoritnya ini bisa dipastikan selalu tersaji di meja makan.

Lebih lanjut ketika hendak memulai puasa pertama, Umuh ru­panya selalu menginginkan opor ayam lebih awal. Bukan pada saat lebaran, namun dia senang menyantap olahan unggas ini jelang ra­madan atau ‘munggahan’.

“Menu makanan sahur pertama ayam diopor, itu dari pertama pasti ada. Kalau buka sehari-hari kebiasaan selalu ada sayur kacang, kalau takjil kolak lah, saya ga pernah macem-macem,” pungkasnya.

(Imam/net)