10439054_958752110804432_3064140811384411217_nDunia fashion dan kuliner sepertinya memang tidak ada matinya. Sebab, keduanya selalu memunculkan sesuatu yang baru sesuai dengan tren di masyarakat. Terlebih, baik fashion maupun kuliner memang banyak peminatnya karena ingin selalu tampil up to date. Sebut saja usaha fashion yang digeluti dua orang sahabat Ria Sarwono dan Carline Darjanto ini. Menghadirkan brand mode perempuan yang diberi nama Cotton Ink, keduanya sukses di bisnis tersebut. Seperti apa kisahnya?

Oleh : Apriyadi Hidayat
[email protected]

Cotton Ink hadir se­jak November 2008. Brand kini menjadi ikon baru di bisnis fashion yang suk­ses merancang dan menyediakan berbagai produk pakaian wanita mulai baju, bawahan, outerwear sampai aksesori seperti shawl dan tas. Ria dan Carline membanderol produknya dengan kisaran harga Rp 199.000–Rp 389.000 per produk. Dalam sebulan, mereka memproduksi lebih dari 5.000 produk.

Ria Sarwono dan Carline Darjanto su­dah menjadi sahabat sejak duduk di bang­ku SMP. Lantaran sama-sama mencintai dunia mode, Ria dan Carline memutuskan untuk mengembangkan produk mode Cot­ton Ink.

Bagi perempuan yang doyan belanja on­line, Cotton Ink bukanlah merek yang asing di telinga. Desain kasual disertai dengan de­tail sebagai aksen membuat produk Cotton Ink diterima masyarakat luas. Inovasi dalam industri mode, baik dari segi desain dan branding, mem­buat Ria dan Carline kerap diganjar penghargaan. Pada 2010, Cotton Ink dianugerahi Most Favorite Brand di Brightspot Market, lalu Most Innovative Brand lewat ajang Cleo Fashion Awards, dan Best Innova­tive Local Brand pada 2012 dari majalah In Style.

Ria dan Carline sudah memulai usaha mode pada 2008. Pencalonan Barack Obama seb­agai presiden Amerika Serikat dijadi­kan momen untuk mengenalkan merek Cotton Ink di industri mode. Mer­eka memproduksi kaus bersablon wa­jah suami Michele Obama tersebut. Dengan modal seki­tar Rp 1 juta, mereka membuat sekitar 100 potong kaus.

Kaus tersebut laku keras di pasaran sehingga memacu semangat Ria dan Carline meneruskan usahanya. Sebagai lulusan fashion design, Carline ingin membuat sebuah koleksi yang utuh, tidak sekadar printed t-shirt atau ak­sesori berupa syal. Apalagi, saat itu, Cotton Ink didukung komunitas online yang terus-terusan membicarakan ke­beradaan merek mode ini. Carline sangat yakin bahwa momen ini tidak akan terulang lagi. “Kami take off di saat yang tepat sehingga betul-betul harus dimanfaatkan,” tu­turnya.

Ria bercerita, sesungguhnya, ia dan Carline tak per­nah bercita-cita jadi pengusaha sebelumnya. Sebelum Cotton Ink berdiri, keduanya bekerja di bidang yang tak jauh dari mode. Carline pernah bekerja di perusahaan manufaktur kain yang berkaitan dengan ekspor dan im­por. Meski hanya bekerja selama setahun, Carline melihat proses keseluruhan di perusahaan tersebut. Dus, strategi yang berhubungan dengan produk sudah terekam dalam benak Carline.

Adapun Ria sempat bekerja di salah satu butik multi­brand di Jakarta. Pekerjaannya melibatkan interaksi den­gan konsumen. “Setelah diingat-ingat, memang pekerjaan kami sebelumnya bersentuhan dengan how to build a brand, how to maintain customer, dan bagaimana men­jalankan toko,” jelas Ria.

Kuat di produk casual

Namun, berbisnis dengan sahabat punya tantangan tersendiri. Tahun-tahun pertama Cotton Ink mereka le­wati dengan banyak bertengkar. Namun, Ria dan Carline menganggap itu sebagai sesuatu yang wajar untuk kes­ehatan hubungan bisnis.

Menurut keduanya, business is business. Dus, pem­bagian saham, gaji, dan tanggung jawab kerja harus dibi­carakan sebaik baiknya. Di Cotton Ink, Carline berperan sebagai chief executive officer (CEO) dan creative director, sementara Ria sebagai chief operating officer (COO) dan brand & marketing director. “Kami menjalaninya dengan terbuka dan lapang dada,” kata Ria.

Perempuan kelahiran Jakarta, 4 Juni 1987 ini menutur­kan, Cotton Ink unggul dari segi produk dibandingkan produk mode lainnya. Konsep mereka ialah casual with a twist (kasual dengan aksen cantik). Ria dan Carline men­ciptakan baju sehari-hari yang mudah dikenakan. Ria juga tak mau muluk-muluk mengadaptasi tren mode secara global. “Kami tetap menyesuaikan dengan konsumen kami agar mereka merasa nyaman menggunakan baju Cotton Ink dan merasa nyaman dengan diri sendiri,” ujar Carline, yang terdorong menjadi pengusaha karena bisnis kuliner ayahnya.

Di sisi lain, Ria mengungkapkan salah satu kunci kes­uksesan Cotton Ink di industri mode tanah air ialah tim­ing yang tepat, walaupun mereka sebenarnya tak sengaja memilih waktu tersebut. Pasalnya, tren yang diciptakan Cotton Ink biasanya dari spontanitas.

Beberapa tahun belakangan, merek lokal memang se­dang jadi sorotan. Brightspot Market juga jadi salah satu momen yang mengangkat nama Cotton Ink. Yang paling penting, Cotton Ink tahu betul memanfaatkan media so­sial. Dengan demikian, keberadaan Cotton Ink mudah di­jangkau oleh banyak orang.

Online dominan

Ria menampik bahwa penjualan merupakan target uta­ma dari berdirinya toko Cotton Ink. Dengan memiliki toko sendiri, Ria dan Carline ingin konsumen bisa melihat dan merasakan langsung produk-produk Cotton Ink. “Adanya toko offline bagus untuk branding kami dan pengalaman customer kami dalam berbelanja,” ujarnya.

Namun, keduanya sejak awal tidak menargetkan pen­jualan yang fantastis dari gerai offline Cotton Ink. Pasal­nya, toko Cotton Ink hanyalah salah satu perangkat mar­keting bagi mereka.

Sejauh ini, penjualan online masih mendominasi pendapatan Cotton Ink. Sebanyak 70 persen penjualan be­rasal dari online. Sisanya dari penjualan lewat toko.

(KTN)