Thomas-SembiringJAKARTA, TODAY — Tingginya harga daging di Indonesia, diduga dimainkan kartel. Harga daging sapi di tingkat pasar tradisional khusus­nya di Jabodetabek rata-rata sudah mencapai Rp 100.000 perkilogram. Bahkan harga dag­ing sapi di Bulungan, Kalimanta Utara sudah mencapai Rp 135.000 perkilogram. Fenomena ini sudah terjadi hampir 3 tahun terakhir.

Ketua Asosiasi Importir Daging Indone­sia (Aspidi) Thomas Sembiring mengatakan, tingginya harga daging sapi saat ini terjadi karena tak seimbangnya antara permintaan dan penawaran.

“Tanya dong Kementan (Kementerian Pertanian) kenapa? Kalau dilihat dari road­map Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, mereka ingin di tahun 2015 ini pasokan sapi 90% dari lokal, se­hingga impor dibatasi,” katanya, Kamis (11/6/2015).

Namun faktanya, pasokan sapi hidup yang ada tidak mampu mencukupi permin­taan daging sapi yang cukup besar di dalam negeri. Sayangnya Thomas menyatakan alokasi kuota impor sapi hidup sangat kecil dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Menurut catatan Kementerian Perda­gangan (Kemendag), di kuartal I-2015 izin yang dikeluarkan adalah 100.000 ekor sapi bakalan dengan realisasi 97.747 ekor. Se­dangkan di kuartal II-2015 izin yang dikelu­arkan sebanyak 279.000 ekor sapi, sebanyak 250.000 ekor adalah sapi bakalan dan 29.000 ekor adalah sapi siap potong. “Sapi bakalan itu kan harus digemukan 3 bulan dan tidak bisa dipotong sekaligus,” tambahnya.

Maka tidak heran menurutnya harga daging sapi melonjak dari rata-rata Rp 95.000 menjadi Rp 100.000 perkilogram. Ia dengan tegas menyatakan lonjakan harga daging sapi karena stok yang ada sedikit dan tidak mampu memenuhi permintaan yang cukup besar.

Mengendus Kartel

Sementara itu, Komisi Pengawas dan Persaingan Usaha (KPPU) sudah mengen­dus adanya praktik kartel yang menyebab­kan harga daging sapi sulit turun dalam periode hampir 3 tahun pada kisaran Rp 95.000 hingga Rp 100.000 perkilogram (ra­ta-rata nasional).

Baca Juga :  Mengenal Stadion Pajajaran Tempo Dulu yang Terkenal Sebagai Lapangan Pacuan Kuda

Tim KPPU telah mulai melakukan peny­elidikan sejak pertengahan 2013 atau 2,5 tahun yang lalu. Komisioner KPPU Mun­rokhim Misanam mengungkapkan, sampai saat ini proses penyelidikan terus berjalan namun barang bukti yang lengkap soal dugaan kartel.

“Terutama oleh feedloter (perusahaan penggemukan sapi) ada indikasi ke sana (kartel). Tetapi kita masih terbentuk dengan ketidaklengkapan alat bukti. Penyelidikan masih berjalan,” katanya kepada detikFi­nance, Kamis (11/6/2015).

Munrokhim meminta semua pihak bersabar karena hingga kini KPPU masih melakukan pendalaman dan penyelidikan atas adanya dugaan praktik kartel terutama dalam permainan impor sapi. “Proses pe­nyelidikan belum ditutup, makanya masih berjalan walaupun dengan pelan. Kita terus dengan sabar,” tambahnya.

KPPU juga meminta Kemendag melakukan pengawasan yang cukup ketat terutama menyangkut realisasi impor sapi oleh para importir. Hal itu dilakukan untuk meminimalisir upaya penahanan stok yang menyebabkan harga daging sapi melonjak.

“ Saya kira Kemendag meski harus dicek realisasinya apakah sudah berjalan penuh atau bisa juga langsung dicek ke kandang feedloter. Mestinya dicek berapa dia impor dan berapa dia gelontorkan sapinya,” jelasnya

Para pedagang daging sapi di pasar tradisional mengaku heran, harga daging sapi tidak pernah turun sejak dua tahun lalu. Padahal pemerintah sudah membuka keran impor sapi hidup baik sapi bakalan maupun sapi siap potong.

“Saya heran juga, menurut informasi pemerintah membuka keran impor sapi hidup, tapi harga daging sapi flat di Rp 95.000/kg,” ungkap Parjo, pedagang daging sapi di Pasar Sungai Bambu, Jakarta Utara, Kamis (11/6/2015).

Baca Juga :  Cek SPAM Palasari Milik Perumda Tirta Pakuan, Anggota DPR RI Nilai Sudah Bagus

Ia juga pesimistis harga daging sapi akan turun kembali menjelang puasa dan lebaran tahun ini. Bahkan sebaliknya harga daging sapi diprediksi akan naik menjadi Rp 115.000/kg sebelum puasa dan menjadi Rp 120.000/kg saat sebelum lebaran.

“Saya pesimis akan turun. Ya alasannya kalau harga rempah-rempah (karkas/dag­ing plus tulang) sudah naik di Rumah Pemo­tongan Hewan, harga daging sapi di tingkat eceran juga pasti naik,” tuturnya.

Saat ini, harga karkas berkisar antara Rp 77.000-79.000/kg atau lebih tinggi dari rata-rata harga sebelumnya Rp 70.000-73.000/kg. Karena itu, ia juga meminta pemerintah untuk membuat tata niaga perdagingan nasional agar harga daging sapi bisa turun. “Percuma kan pemerin­tah membuka keran impor sapi hidup tapi harga di pasar tidak turun-turun,” tukasnya.

Menurut catatan, total izin pemasukan sapi impor yang dikeluarkan Kemendag sepanjang 2013 mencapai 409.137 ekor sapi. Sebagai pembanding, pada 2012 sempat ada pemangkasan kuota impor sapi bakalan dari 400.000 ekor menjadi 283.000 ekor.

Kemudian bila dilihat impor sapi hidup selama 2014 meningkat kurang lebih 70% dibandingkan tahun lalu. Pada 2014 realisasi impor sapi hidup mencapai 697.550 ekor sapi.

Sementara di 2015, tepatnya di kuar­tal I-2015 total izin yang diberikan sebesar 100.000 ekor. Dari jumlah itu, realisasi im­por sudah mencapai 97.747 ekor sapi baka­lan impor yang sudah masuk ke Indonesia.

Sedangkan di kuartal II-2015, total izin yang diberikan meningkat menjadi 250.000 ekor sapi bakalan dan ada tambahan 29.000 ekor sapi siap potong atau totalnya 279.000 ekor. Cara ini dilakukan untuk ke­butuhan daging sapi saat puasa dan leba­ran 2015.

(Alfian Mujani|dtc)