Untitled-8USIANYA baru 21 tahun, tetapi bisa membayar biaya kuliah dan membeli mobil sendiri. Itulah Nicholas Kurniawan, anak muda pengusaha ikan hias yang saat ini masih duduk di bangku kuliah. Kalau menelusuri kisah hidupnya, mungkin akan terkesan sedikit ‘drama’. Nicholas sejak kecil menga­mati bahwa keterbatasan finansial kerap menjadi sumber masalah di keluarganya. Orangtuanya dengan penghasilan terbatas berusaha keras mem­biayai sekolah Nicholas dan saudaranya. Situasi itu memaksanya berjualan sejak kelas 2 SD.

Oleh : Apriyadi Hidayat
[email protected]

Nicholas mengaku, terjun ke dunia bisnis sejak kecil tak membuat dirinya malu dengan teman-temannya. “Sebenarnya tentu ada rasa malu, tapi saya coba selalu menghibur diri sendiri dan membanggakan diri. Buat saya gengsi tidak mem­buat saya sukses, tapi kalau saya sukses saya pasti ber­gengsi,” ungkapnya.

Turning point hidup Nicho terjadi saat ia berusia 17 tahun, ketika duduk di kelas 2 SMA Kolese Kanisius. Seorang teman memberi Nicho sepaket ikan Garra Rufa yang biasa bermanfaat untuk terapi. Karena merasa tidak membutuhkan ikan tersebut, Nicho mencoba menjual­nya di Forum Jual-Beli Kaskus. Saat itu ia belum familiar dengan kegiatan jual-beli online. Tanpa disangka, dalam waktu singkat banyak yang berminat membeli.

Baca Juga :  Pegawai Basarnas Tewas Usai Dibacok Kawanan Begal, Kabasarnas : Kami Mengutuk Keras Atas Perbuatan Keji Pelaku

“Saya sudah coba segala bisnis sejak SD, mencoba segala macam bisnis, mulai dari jualan makanan di sekolah beberapa kali berhasil, lalu malah banyak sisa. Jualan baju juga vendor bermasalah, jualan MLM malah banyak hilang uang bahkan hilang teman, dan masih ban­yak lagi. Saya terus coba, terus gagal, tapi terus bangkit, hingga akhirnya di ikan hias, rasanya Tuhan buka jalan memudahkan segalanya. Walau banyak juga kesulitan yang datang, tapi ya selalu dibimbing Tuhan bagaimana menyelesaikannya, jadi terus coba dan akhirnya berhasil juga,” katanya.

Nicho pun mempelajari seluk-beluk ikan Garra Rufa, dan mulai menghasilkan 2-3 juta rupiah setiap bulan, se­belum kemudian mulai menjual berbagai jenis ikan hias. Awalnya, karena keterbatasan modal, Nicho hanya men­jadi perantara. Lama-kelamaan, ia mulai menjual produk ikan hias sendiri, berbekal tiga buah ponsel Blackberry untuk membangun hubungan dengan customer-nya. Dari ilmu yang ia dapatkan di perkuliahan, ia juga mengembangkan bisnisnya yang semula hanya “berda­gang” menjadi sebuah brand bernama Venus Aquatics.

Kita seringkali mendengar kisah pedagang sukses yang merasa perlu mengenyam pendidikan. Nicho pu­nya pandangan sendiri mengenai ini. Walaupun Venus Aquatics telah memberikannya omset lebih ratusan juta rupiah per bulan, ia merasa harus lebih banyak men­dalami konsep-konsep bisnis untuk mengembangkan bisnisnya lebih besar lagi. Bersama teman-temannya di kampus, Nicho sedang sibuk mengembangkan Synergy Entrepreneur Academy, suatu inisiasi yang memberi­kan workshop start-up business bagi siswa SMA. Ia juga merupakan salah satu inisiator Prasetiya Mulya Property Club, kegiatan mahasiswa yang mempelajari seluk-beluk bisnis properti.

Baca Juga :  180 Rumah Warga di Kudus, Diterjang Angin Kencang, BMKG Terbitkan Peringatan Dini

Ada satu prinsip yang selalu ia bawa selama men­jalankan bisnisnya, yaitu perseverance atau kegigihan. Jika membaca kisah hidup Nicho di bukunya yang ber­judul Die Hard Entrepreneur, ia bercerita tentang per­juangannya mengumpulkan 100 juta rupiah untuk biaya kuliah. Ia sempat ditipu oleh rekan bisnisnya dan ke­hilangan 30 juta rupiah. Ia hampir putus asa melanjut­kan kuliah. Namun ternyata, dari kejadian tersebut, ia mendapat banyak order dari mantan customer rekan bis­nisnya yang juga merasa ditipu. Sejak kejadian itu, Nich­olas Kurniawan yang merupakan pemenang Wirausaha Muda Mandiri ini, semakin percaya bahwa when there is a will, there is a way.

(ZLN/Apri)