20150217menpora-imam-nahrawi-dapat-nilai-duaJAKARTA, Today – Sekretaris Asprov PSSI Papua, Parson Horota bersuara lantang terkait kebijakan-kebijakan yang diambil Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Imam Nahrawi.

Dikatakan Parson, Menpora telah membunuh sepakbola Indonesia dengan sadis. Terlebih, pembekuan terhadap PSSI juga tidak memperli­hatkan tanda-tanda untuk dicabut.

Hal tersebut memberikan dampak yang membuat sepakbola Indonesia semakin terpuruk. Dampak lain dari pembekuan juga sudah sangat terasa. Yakni, sanksi FIFA dan hancurnya tatanan sepakbola Indonesia.

“Sepakbola telah dibangun 80 ta­hun dan sudah menjadi alat pemer­satu bangsa. Menpora telah menjadi­kan banyak orang jadi miskin karena menghilangkan puluhan ribu tenaga kerja di sepakbola,” ujar Parson.

Sementara Djohar Arifin telah men­jadi biang dari semua kekacauan sepakbola Indo­nesia. “Hukuman yang pas adalah dihukum seumur hidup, tidak terli­bat di dunia sepakbola, karena Djo­har telah menging­kari janji dan komit­mennya un­tuk mem­b a n g u n sepakbola,” tegasnya.

Senada diungkapkan oleh Sek­retaris Asprov PSSI Nangroe Aceh Da­russalam, TM Khaidir, menyebutkan jika daerahnya yang paling merasakan akibat dari sikap arogan Menpora dengan membeku­kan PSSI.

Pembinaan sepak­bola bahkan sampai futsal, pun tidak dapat berjalan. Kare­na itu ia me­minta Men­pora segera mencabut pembekuan dan FIFA ikut menarik sank­sinya dari Indo­nesia.

“ Dengan demikian, situasi kemba­li normal. Menpora Imam harus memikirkan anak bangsa yang saat ini sedang membutuhkan pembi­naan dari pemerintah,” ujar Khaidir.

Ini sungguh ironis. Bukan pem­binaan yang didapat, justru pem­binasaan yang membabi buta di­hujam oleh Menpora Imam.

“Sampai kapan kemelut ini dirawat oleh pemerintah kita ini? Ingat, kami yang dari Aceh sangat berbahaya kalau ini terus berlan­jut. Karena, masyarakat sudah ti­dak ada hiburan lain selain sepak bola,” sambungnya.

Lebih jauh dikatakan Khaidir, di daerah yang dipanggil serambi Mekkah tersebut, pemerintah ban­yak menerapkan larangan. Misalnya saja, Aceh tidak bisa melihat acara konser musik ataupun hiburan.

“Jadi, satu-satunya hiburan itu­lah sepakbola. Sehingga, sekali lagi kami mohon sebelum terlambat, segera dicabut pembekuan. Karena situasi di Aceh sudah di ambang ba­haya,” pungkasnya.

(Imam/net)