Untitled-8MILIAder asal Hong Kong, Li Ka-shing, adalah orang terkaya di Asia. Kekayaannya diperki­rakan mencapai USD20,1 miliar. Dibalik kesuksesannya, ternyata Li Ka-shing memiliki cerita men­arik. Dia terpaksa berhenti seko­lah dan membiayai kehidupan keluarganya sebelum dia sukses seperti saat ini.

Oleh : Apriyadi Hidayat
[email protected]

Dalam sejarah pendidikannya, Li bukanlah se­seorang yang lulus sarjana di universitas ter­kenal. Bahkan, Li tidak pernah menyelesaikan sekolahnya. Ia berhenti sekolah saat berumur 12 tahun karena ia ingin membantu keluarganya.

Li terpaksa berhenti sekolah karena memang keluar­ganya tidak mampu dan tidak punya uang untuk mem­bayar sekolah. Li memulai usahanya dengan membuat mainan. Berkat kegigihannya, ia akhirnya bisa mendiri­kan perusahaannya sendiri.

Perusahaan yang ia buat memang dimulai dari usaha yang kecil sekali. Dia mulai membuka pabrik pertaman­ya di usia 22 dan dalam beberapa tahun sudah menjadi seorang produsen, pengembang properti dan investor. Kini, dia menjadi seorang investor dalam bidang teknolo­gi.

Baca Juga :  Adik Dinar Candy Dilaporkan Hilang Dalam Gempa Cianjur

Dia adalah salah satu investor terbesar Facebook dan baru-baru ini mengakuisisi perusahaan telekomunikasi Inggris O2 yang dibeli dengan harga USD15 miliar. Dirin­ya mengaku, sejak kecil sudah menjadi tulang punggung keluarganya. Li Ka-shing berserta keluarganya harus pin­dah ke Hong Kong, Ayahnya meninggal karena penyakit TBC. Dia harus meninggalkan sekolah sebelum usia 16 tahun dan bekerja di pabrik.

Selama bekerja, Li memberikan 90 persen dari ga­jinya untuk Ibunya. Keberhasilannya dalam mencari nafkah untuk keluarga mengajarinya tentang nilai sosial dan sikap dermawan. “Tidak peduli seberapa kuat anda, jika Anda tidak memiliki hati yang besar, anda tidak akan berhasil,” kata Li dikutip dari Business Insider.

Baca Juga :  Layaknya Pawang Hujan, Wanita Paruh Baya Ini Pukul Air Banjir dengan Tasbih

Meskipun putus sekolah di usia muda, dan tidak per­nah menerima gelar sarjana, dia selalu gemar membaca, itulah yang menjadikannya orang sukses.

Contohnya, dia bisa menyelesaikan buku akuntansi tanpa pengalaman, dia belajar sendiri dari buku terse­but. Mungkin salah satu faktor yang mendukung kes­uksesannya adalah semangatnya dalam berkarya. Pada tahun 2010, ia mengatakan kepada Forbes, “kenikmatan yang paling penting bagi saya adalah bekerja keras dan membuat lebih banyak keuntungan”.

Walaupun Li sudah sukses, ia sangat dermawan dan peduli pada orang lain. Ia mendirikan yayasan Li Ka Shing Foundation. Yayasan ini cukup berperan besar dalam memperhatikan orang-orang yang kesulitan.

(OKZ/Apri)