alfian mujani 240SEORANG petani singkong tampak lahap menyantap makanan di piring kaleng. Padahal lauknya hanya ikan asing, sayur bening, dan sam­bal goang. Sam­bil mengeluskan tangan basah ke bulu betisnya se­habis makan, se­bagai pengganti tisu yang tak mampu dibelinya, lelaki paruh baya ini berkata: “Bagiku tak perlu menjadi orang paling kaya. Yang penting adalah bisa tidur malam dengan nyenyak dan bangun pagi dalam keadaan segar bugar. Itu sudah lebih dari cukup. Bukankah ketika masuk alam kubur tak akan ditanya berapa uang yang su­dah berhasil dikumpulkan selama hidup.”

Bagi petani desa definisi kaya dan baha­gia itu sangat sederhana. Tapi mengapa orang kota selalu rumit membuat definisi. Jangan-jangan semakin tinggi tingkat pendidikan, semakin sulit membuat definisi kaya dan ba­hagia. Padahal, kuncinya sangat sederhana yakni merasa cukup dengan yang dimiliki dan bersyukur.

Marilah kita bersyukur. Helaan nafas pagi ini jauh lebih mahal ketimbang mobil dan rumah yang kita miliki. Mungkin Anda kini sedang sedih karena mau Lebaran tak punya uang cukup. Tapi jangan sampai kesedihan itu membuat kita lupa untuk bernafas.