Untitled-6Menjelang berakhirnya waktu liburan sekolah, Pasar Ah Poong, yang terletak di Sentul City, Kabupaten Bogor, bisa menjadi alternatif berwisata bagi Anda dan keluarga atau pun orang terdekat. Tidak hanya menawarkan suasana yang nyaman, pengelola juga menghadirkan beragam kekayaan kuliner nasional hingga dunia. Seperti apa?

Oleh : Apriyadi Hidayat
[email protected]

Meski bernama Pasar Ah Poong, tempat kuliner ini bukan seke­dar pasar biasa. Demi memuas­kan lidah para pengunjungnya, Ah Poong menghadirkan berbagai menu mulai dari makanan tradisional, asian food sampai dengan western food. Semua jenis makanan itu bisa dipilih dari setiap stand jajanan yang ada di sana.

Dengan konsep layaknya foodcourt, Ah Poong sukses menyajikan konsep wisata kuliner yang memadukan keindahan alam serta keanekaragaman budaya melalui ma­kanan yang belum pernah ada sebelumnya.

Baca Juga :  Komunitas Cisadane Resik Ajak Siswa Mengenal Jenis Sampah 

“Ah Poong pertama kali dibuka 8 Desem­ber 2012. Pengunjung bisa datang ke resto ini melalui tiga jembatan utama tang mem­bentang dari sebrang sungai dimana resto berada,” tutur Triani puspita dewi selaku Tenant Relation Ah Poong.

Pasar Ah Poong mempunyai kapasitas duduk 1000 sheet yang tersebar ditiap area, dan mempunyai 60 vendor makanan ber­beda yang bisa dipilih sesuai selera. “Tiap area menyajikan vendor makanan yang berbeda-beda, tidak ada yang sama. Hal ini merupakan salah satu cara manajemen Ah Poong dalam mengelola makanan yang di­jual demi memuaskan para pecinta kuliner yang datang,” jelas Triani.

Baca Juga :  Resep Membuat Sup Telur Pedas

Selain menawarkan beragam kuliner, para pengunjung juga bisa merasakan pen­galaman unik bermain di riak air sungai Cikeas dengan menaiki perahu sampan yang terbuat dari kayu secara gratis. Se­lain itu, di tempat ini juga terdapat fasilitas taman bermain Eco Art Park, serta track sepeda untuk mengitari sungai dan danau pasar apung ini. ”Jadi para pengunjung yang datang ke Ah Poong dapat menikmati keindahan alam di sekitar pasar Ah Poong dengan mengunakan perahu, sepeda, atau berjalan kaki,” pungkas Triani.

(Apriyadi Hidayat)