11059203_1594648810774881_4672729891041608839_nBelanja online terus menjadi tren di era sekarang. Bahkan, trennya terus tumbuh hingga kepada pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Melihat peluang tersebut, aplikasi Happy Fresh menawarkan kemudahan berbelanja kebutuhan sehari-hari di supermarket tanpa harus sedikit pun beranjak dari rumah. Saat ini Happy Fresh bekerjasama dengan dua supermarket, yaitu Farmers Market dan Ranch Market yang memiliki 24 toko di Jabodetabek.

Oleh : Apriyadi Hidayat
[email protected]

CEO Happy Fresh Markus Bihler di Jakarta, mengatakan ide aplikasi tersebut berawal dari terbuangnya waktu yang dimil­iki masyarakat Jakarta akibat kemacetan di ibukota. Waktu luang yang terbatas membuat masyarakat tidak pu­nya banyak kesempatan untuk melakukan banyak hal, termasuk belanja kebutuhan sehari-hari.

“Kami berpikir ‘bukankah fantastis bila ada orang lain yang berbelanja untuk kita’?” kata Bihler dalam peluncuran ap­likasi Happy Fresh.

Saat ini Happy Fresh bekerjasama den­gan dua supermarket, yaitu Farmers Mar­ket dan Ranch Market yang memiliki 24 toko di Jabodetabek. Aplikasi ini memung­kinkan penggunanya memesan barang ke­butuhan sehari-hari melalui katalog yang tersedia secara online, mulai dari sayur mayur, daging, buah, snack, hingga pera­latan mandi.

Pesanan tersebut akan diantar ke rumah pengguna dalam kurun waktu 60 menit. Pengguna dapat memilih jam bera­pa belanjaannya harus diantar ke rumah. Bila pesanan datang terlambat, biaya pen­giriman akan dikembalikan kepada peng­guna.

“Untuk belanja di atas Rp700.000, biaya pengiriman gratis, di bawah Rp700.000 biaya pengiriman Rp25.000 dan di bawah Rp300.000 biaya pengiriman Rp40.000,” jelas CO-Founder sekaligus Chief Technolo­gy Officer Happy Fresh Fajar Budiprasetyo.

Bihler menegaskan menjamin kesega­ran dari bahan makanan yang diantar. “Pengantaran hanyalah bagian terakhir dari Happy Fresh. Kami punya orang-orang di toko yang siap memilihkan pesan­an terbaik untuk Anda,” ujar dia.

Setiap pesanan diantarkan para petu­gas Happy Fresh dengan motor yang dilengkapi kotak penyimpanan khusus. “Bahan makanan akan tetap segar, terma­suk es krim akan tetap beku hingga di tu­juan,” imbuh COO Happy Fresh Benjamin Koellmann.

Dia memastikan pengguna dapat mengembalikan barang pesanan tanpa bi­aya bila merasa tidak puas dengan kondisi kesegarannya.

Rambah Asia Tenggara

Bukan hanya di Jakarta, para pendiri HappyFresh mengincar kota-kota besar lainnya di kawasan Asia Tenggara. Oleh karena itu, meski bermarkas di Jakarta, HappyFresh justru pertamakali beroperasi di Kuala Lumpur, Malaysia, mulai 10 Ma­ret 2015. Selanjutnya, mereka juga akan meluncurkan aplikasi serupa di Bangkok, Thailand. “Kami memang mengincar top one city dalam sebuah negara, sebelum berekspansi ke kota lainnya,” kata Fajar.

Meski baru berjalan selama tiga bulan, Fajar melihat respons pasar yang baik. Konsumen sudah berbelanja ulang lewat HappyFresh. “Awalnya, kami mempre­diksi dalam setengah bulan, user baru be­lanja lagi. Tapi, menurut data, tujuh hari bahkan rata-rata tiga hari, mereka sudah order lagi,”

kata Fajar.

Meski begitu, Fajar belum bisa me­nyebutkan omzet yang diperoleh Happy­Fresh. Yang jelas, lanjut dia, pertumbuhan jumlah konsumen sudah terlihat. Dari kondisi ini, dia pun menyimpulkan, pelu­ang e-commerce ini cukup bagus. “Kami juga akan bekerjasama dengan supermar­ket lainnya supaya bisa menjangkau pasar yang lebih besar,” jelas dia.

Ubah Kebiasaan

Apakah Anda tertarik terjun di bisnis serupa? Jika iya, Anda harus siap memikir­kan berbagai hal sebelum memutuskan berbisnis layanan belanja online, seperti HappyFresh. Bukan hanya modal yang sangat besar, namun Anda juga harus mampu mengedukasi konsumen.

Sebab, seperti Fajar bilang, layanan HappyFresh ini merupakan sesuatu yang baru bagi masyarakat. “Kami mencoba mengubah habit orang yang belanja gro­cery dengan datang langsung, kini melalui jalur online,” terang Fajar.

Karena itu, Fajar mengutamakan pen­galaman konsumen dalam berbelanja di HappyFresh. “Dari pengalaman itu, kalau mereka tidak puas, maka kemungkinan mereka tak akan belanja lagi besar. Jadi, kami harus memenuhi janji yang kami sampaikan di awal untuk membuat cus­tomer experiencebagus,” jelas dia.

Dus, bukan hanya kecanggihan aplikasi berikut tampilannya yang memudahkan konsumen, personal shopper juga men­jadi kunci penting dalam bisnis ini. Tak heran, HappyFresh menempatkan orang-orang yang terlatih sebagai perwakilannya di sebuah gerai supermarket.

Maklum, sebelum menjalankan Happy­Fresh, para pendirinya terlebih dulu men­gadakan survei soal kendala konsumen berbelanja grocery dan produk segar dari layanan online. Dari survei itu, tersirat keraguan konsumen soal kualitas produk. “Jadi, bagaimana mereka tahu bahwa ang­gur yang dipilih benar-benar bagus kuali­tasnya atau semangka yang dipilih manis dan lainnya,” ungkap Fajar.

Berangkat dari hasil survei itulah, lantas HappyFresh mementingkan pelatihan bagi personal shopper.Misalnya, cara memilih buah yang manis, memilih produk susu yang tanggal kadaluarsanya paling lama. “Intinya, servis yang kami berikan paling tidak harus sebagus jika konsumen datang dan memilih sendiri ke toko,” cetus Fajar.

Selain personal shopper, bisnis ini juga membutuhkan tenaga pengantar yang an­dal. Untuk mengantar pesanan ini, Hap­pyFresh memilih tenaga laki-laki. Kini, jumlah personal shopper dan tenaga pen­gantar mencapai 60 orang.

Meski berupa usaha jasa, modal bisnis layanan belanja online ini cukup merogoh kantong. Fajar bilang, untuk membuka layanan HappyFresh di Jakarta dan Kuala Lumpur ini, perusahaannya menggel­ontorkan dana hingga miliaran rupiah. “Modalnya single digit milllion dollar US,” kata dia.

Sebab, bukan hanya untuk memban­gun aplikasi dan sistem, Anda juga ha­rus menyiapkan moda transportasi untuk pengiriman. HappyFresh sendiri memakai kendaraan bermotor yang dilengkapi den­gan coolbox.

Jelas, untuk menjalankan usaha ini, Anda juga harus menjalin kerjasama den­gan supermarket. Lebih baik, memilih supermarket yang sudah mempunyai ja­ringan banyak. Sebab, dengan jaringan supermarket yang besar, potensi untuk cepat mendapatkan konsumen juga besar. Namun, jangan lupa menyesuaikan target pasar layanan belanja online ini dengan target pasar supermarket.

Kerjasama ini mengadopsi berbagai skema. Fajar bilang, HappyFresh mener­apkan sistem revenue sharing dengan su­permarket. Jadi, selain dari biaya pengiri­man, mereka juga mendapat penghasilan dari revenue sharing. Boleh jadi, Anda bisa mengolah sistem kerjasama yang menarik lainnya.

Selanjutnya, kerjasama dengan per­bankan juga diperlukan sebagai solusi pem­bayaran. Selain pembayaran saat barang datang atau cash on delivery, konsumen HappyFresh juga bisa melakukan pem­bayaran lewat kartu kredit.

(ANT/KTN)

======================================
======================================
======================================